Meski hasil Pemilu secara resmi masih menunggu penghitungan manual yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU), quick count yang dalam Pilpres relatif lebih valid dibanding Pilleg, menunjukkan bahwa SBY-Boediono memimpin (baca: memenangi) Pilpres 2009, bahkan hanya melalui satu putaran.
Yang mungkin bisa dianalisis adalah mengapa SBY-Boediono "menang"? Strategi apa yang membuat perolehan suara SBY-Boediono mengungguli pasangan Megawati-Prabowo maupun JK-Wiranto? Ada beberapa catatan yang bisa dikemukakan:
1. Faktor penentu tetap adalah figur SBY. Walaupun disebut-sebut dan sering dicap peragu, sosok SBY yang tenang, begitu juga Boediono, menjadi faktor orang memilih pasangan ini. Dengan postur tinggi besar, bahasa tertata dan sistematis, menjadikan SBY masih menjadi idola Indonesia untuk hingga 5 tahun ke depan.
2. Ketenangan dan tetap menjaga emosi juga menjadikan SBY menjadi pilihan. Bayangkan, dalam ”Debat Pilpres Final” secara hitung-hitungan politik, JK sebenarnya JK di atas angin, karena begitu banyak ”sentilan” JK yang diarahkan ke SBY. Namun tentu ini berbanding terbalik dengan apa yang diperoleh JK-Wiranto. Sehingga, dari pendapat masyarakat pasca penyontrengan yang direkan bebrapa televisi, dapat disimpulkan bahwa tipe SBY masih lebih disukai dibandingkan calon lainnya. Kuncinya ternyata, sebagai Bapak bangsa, rakyat Indonesia masih menginginkan presiden yang tenang, jaga emosi dan perasaan orang lain. Mungkin saja, dengan begitu, rakyat merasa bahwa perasaan mereka juga tetap akan diperhatikan, negara dalam keadaan tenang dan walaupun di bawah tekanan, tetap tenang. Sebab jika presidennya grasa-grusu, bagaimana dengan rakyat dan nasib bangsanya, mungkin begitu yang ada dipikiran mereka.
3. Slogan: ”Lanjutkan”. Slogan ini lebih sederhana dan jelas maksudnya. Jika terpilih, dan diharapkan rakyat memilihnya untuk melanjutkan kursi kepresidenan, maka program-program yang sudah dijalankan selama ini, akan dilanjutkan. Tentu berbeda dengan slogan ”Membangun Ekonomi Kerakyatan”, yang masih agak diawang-awang dan belum tentu dapat dikerjakan, apalagi wong cilik sendiri banyak yang merasa ditinggalkan ketika Megawati berkuasa. Begitu juga dengan ”Lebih Cepat Lebih Baik”. Selama ini publik kadung dicekoki ”Biar Lambat Asal selamat”, selain dalam kehidupan, dalam spanduk-spanduk di jalan raya, ”Ngebut Berarti Benjut”, ”Jangan Negbut, Keluarga Menunggu di Rumah”, membuat slogan tersebut menjadi kontradiktif, sebab yang normatif adalah Lebih Tepat, Lebih Baik.
4. Rekam Jejak. Meski tidak ada yang sempurna, pasangan SBY-Boediono dirasa lebih baik dibanding pasangan lainnya, yang masih diselimuti beragam kasus-kasus kontroversial semisal masalah pelangggaran HAM, menjual aset-aset negara maupun konflik kepentingan akan bisnis keluarga,
5. Dukungan partai politik. Secara hitung-hitungan matematis, dengan dukungan 23 parpol, tentu potensi menang sudah di tangan. Namun, bilamana mesin parpol tidak bisa jalan, SBY-Boediono sendiri sudah menyiapkan tim-tim yang seabrek jumlahnya.
6. Iklan. Sebenanrya, seluruh kandidat mencoba membuat iklan yang menggugah hati masyarakat. Mega-Prabowo dengan keberpihakan pada petani, nelayan, dan mengkritisi hasil kerja SBY seperti dalam kasus Sekolah Gratis, JK-Wiranto dengan lagu ”Tombo Ati”, SBY-Boediono mencuri perhatian dengan mengusung lagu ”Indo Mie”. Sebagai makanan rakyat, sangat jarang jika ada di antara kita yang tidak pernah makan Indo Mie (bukan iklan nih...), sehingga ujung nya mudah ditebak, ”Indo Mie selera ku” yang diganti ”SBY Presiden ku”. Tapi iklan lainnya yang menarik adalah ”Dari raykat untuk Rakyat” yang tentunya mencoba menegaskan bahwa mereka adalah rakyat biasa yang akan mengabdi pada rakyat, secara halus ini jawaban kepada kandidat yang lain, yang orang tuanya adalah Proklamator, pengusaha terkenal serta Begawan Ekonomi.
Walau begitu, bukan berarti tidak ada faktor negatif yang sempat dianggap dapat menggembosi SBY-Boediono, seperti pernyata beberapa anggota Tim Kampanye yang mengutak-atik masalah SARA, adanya Kampanye Negatif mengenai Istri Cawapres Boediono, termasuk soal sihir yang diungkap sendiri oleh SBY. Meksi di kahir cerita, SBY-Boediono tetap menang, tapi faktor tersebut juga tidak bisa diabaikan begitu saja, dan bisa jadi bahan pelajaran kandidat Capres/Cawapres ke depan untuk memilih Tim Kampanye yang tetap tenang, santun serta tetap diperlukan Tim yang cerdasr, terutama mengerti dalam hal komunikasi politik.
Ada tambahan lain?
Tampilkan postingan dengan label pilpres. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pilpres. Tampilkan semua postingan
09 Juli 2009
02 Juli 2009
Final Debat Capres: Debat Terjadi, Tapi Tidak Substantif
Babak final (jadi seperti pertandingan olah raga) Debat Capres digelar Kamis malam ini, 2 Juli 2009. Ini merupakan debat terakhir dari serangkaian Debat Capres dan Cawapres yang digelar dalam putaran pertama Pemilu kali ini. Sebagaimana diketahui, calon presiden harus menjalani tiga kali debat, dan calon wakil presiden harus menjalani dua kali debat.
Debat kali dimoderatori Prof. Dr. Pratikno, Dekan Fisipol UGM. Adapun topik yang diangkat adalah NKRI, Demokrasi dan Otonomi Daerah. Moderator, dibanding moderator Capres sebelumnya Aviliani, dirasa kurang memainkan peran dengan maksimal, seperti terlihat moderator harus bolak-balik melihat catatan pertanyaan dan run down acara. Dalam debat cawapres sebelumnya, yang dipandu Dr. Dr. Fahmi Idris, kelemahan juga ada di moderator yang masih grogi membawa acara demikian penting.
Sebagaimana sebutan ”Final” selain debat ini merupakan debat terakhir, debat dan terjadinya perbedaan pendapat antarcapres terjadi. Bahkan saling”tonjok” pun terjadi, memang bukan secara fisik tapi secara omongan. Yang diserang tentu saja presiden incumbent, dan uniknya yang menyerang adalah wakil presiden incumbent. Hanya saja, dari ”tonjok-tonkokan” yang dilontarkan, tak ada hal yang substansial menyangkut topik yang diangkat. Sebab, JK mempersoalkan iklan ”Satu Putaran” yang ramai menghiasai layar kaca, serta isu rasialis terkait dengan ucapan seorang anggota tim kampanye kandidat presiden lainnya yang mengatakan suku tertentu, yang sebenarnya juga merupakan suku anggota tim kampanye tersebut, belum waktunya menjadi presiden. Disebut tidak substantif karena soal ”satu putaran” tidak ada urusannya dengan topik yang diangkat dan pernyataan yang disebut rasialis bisa diselesaikan secara adat, karena antara yang diomongkan dengan yang dibicarakan berasal dari suku yang sama. Sama saja, ornag Indonesia berpendapat soal Indonesia, yang tentunya juga akan bisa berpendapat positif, dan tak dipungkiri juga mungkin akan berpendapat negatif. Kasus Indonesia yang berhasrat jadi tuan rumah Piala Dunia Sepakbola 2022 misalnya. Tentu ada pro dan kontra.
Dalam debat kali ini, JK memang terlihat begitu agresif. Ya meskipun incumbent capres, JK tetap penantang menjadi presiden, dibanding SBY yang masih sebagai presiden, sehingga SBY terlihat lebih banyak bertahan. Secara kasat mata, memang terjadi perubahan mimik dan gesture (gerak-gerik) SBY, ketika JK mengungkapkan soal iklan dan pernyataan tim SBY yang dinilai rasialis.
Yang unik adalah Mega. Mega seperti terpisahdi tengah perdebatan antara SBY dan JK. Dalam menjawab, Mega sayang sekali kurang memperhatikan waktu sehingga ketika waktu jawab sudah habis, Mega belum selesai bicara, yang menyebabkan moderator berulang kali meminta maaf untuk menegaskan waktu yang diberikan sudah habis.
Gaya SBY dalam menjawab. Tenang dan dalam. Meski memang, emosional SBY terusik dengan ”serangan” JK. Dan JK, seperti berada di atas angin, mengeluarkan ”serangan-serangan”. Meski untuk sebagian kalangan ”serangan-serangan” dirasa perlu dan menarik, namun perlu diingat, mengingat SBY dan JK sampai saat ini masih merupakan ”Dwi-Tunggal”, ”serangan” yang dilakukan bisa saja dinilai tidak elok karena toh sebenarnya antara SBY-JK adalah ibarat dua sisi mata uang. Hanya sangat disayangkan, SBY seharusnya juga bisa menunjukkan kemampuannya menyerang, karena tentu saja lawan-lawannya juga bukan tidak punya kekurangan.
Yang menarik adalah sebelum acara berakhir, bahkan sebenarnya sudah berakhir namun masih ada waktu tersisa. Pertanyaan yang dilontarkan adalah apa yang akan dilakukan Capres jika tidak terpilih jadi capres? Jawaban-jawaban cukup membuat suasana menjadi segar. Namun itu pelru dibuktikan saat hasil Pilpres 8 Juli mendatang diumumkan. Sebab, dari gelagatnya, apa yang terjadi di Jawa Timur, permintaan adanya pilpres ulang, tidak menerima hasil pilpres, bisa saja terjadi. Indikasi jelas, masalah DPT akan terus menjadi beban dan penyulut capres untuk tidak menerima hasil Pilpres. Mudah-mudahan saja itu tidak terjadi, dan semua capres mengucapkan dan merayakan kemenangan capres terpilih, serta mendukungnya di kemudian hari, demi Indonesia yang lebih maju, mandiri, sehat dan cerdas.
Debat kali dimoderatori Prof. Dr. Pratikno, Dekan Fisipol UGM. Adapun topik yang diangkat adalah NKRI, Demokrasi dan Otonomi Daerah. Moderator, dibanding moderator Capres sebelumnya Aviliani, dirasa kurang memainkan peran dengan maksimal, seperti terlihat moderator harus bolak-balik melihat catatan pertanyaan dan run down acara. Dalam debat cawapres sebelumnya, yang dipandu Dr. Dr. Fahmi Idris, kelemahan juga ada di moderator yang masih grogi membawa acara demikian penting.
Sebagaimana sebutan ”Final” selain debat ini merupakan debat terakhir, debat dan terjadinya perbedaan pendapat antarcapres terjadi. Bahkan saling”tonjok” pun terjadi, memang bukan secara fisik tapi secara omongan. Yang diserang tentu saja presiden incumbent, dan uniknya yang menyerang adalah wakil presiden incumbent. Hanya saja, dari ”tonjok-tonkokan” yang dilontarkan, tak ada hal yang substansial menyangkut topik yang diangkat. Sebab, JK mempersoalkan iklan ”Satu Putaran” yang ramai menghiasai layar kaca, serta isu rasialis terkait dengan ucapan seorang anggota tim kampanye kandidat presiden lainnya yang mengatakan suku tertentu, yang sebenarnya juga merupakan suku anggota tim kampanye tersebut, belum waktunya menjadi presiden. Disebut tidak substantif karena soal ”satu putaran” tidak ada urusannya dengan topik yang diangkat dan pernyataan yang disebut rasialis bisa diselesaikan secara adat, karena antara yang diomongkan dengan yang dibicarakan berasal dari suku yang sama. Sama saja, ornag Indonesia berpendapat soal Indonesia, yang tentunya juga akan bisa berpendapat positif, dan tak dipungkiri juga mungkin akan berpendapat negatif. Kasus Indonesia yang berhasrat jadi tuan rumah Piala Dunia Sepakbola 2022 misalnya. Tentu ada pro dan kontra.
Dalam debat kali ini, JK memang terlihat begitu agresif. Ya meskipun incumbent capres, JK tetap penantang menjadi presiden, dibanding SBY yang masih sebagai presiden, sehingga SBY terlihat lebih banyak bertahan. Secara kasat mata, memang terjadi perubahan mimik dan gesture (gerak-gerik) SBY, ketika JK mengungkapkan soal iklan dan pernyataan tim SBY yang dinilai rasialis.
Yang unik adalah Mega. Mega seperti terpisahdi tengah perdebatan antara SBY dan JK. Dalam menjawab, Mega sayang sekali kurang memperhatikan waktu sehingga ketika waktu jawab sudah habis, Mega belum selesai bicara, yang menyebabkan moderator berulang kali meminta maaf untuk menegaskan waktu yang diberikan sudah habis.
Gaya SBY dalam menjawab. Tenang dan dalam. Meski memang, emosional SBY terusik dengan ”serangan” JK. Dan JK, seperti berada di atas angin, mengeluarkan ”serangan-serangan”. Meski untuk sebagian kalangan ”serangan-serangan” dirasa perlu dan menarik, namun perlu diingat, mengingat SBY dan JK sampai saat ini masih merupakan ”Dwi-Tunggal”, ”serangan” yang dilakukan bisa saja dinilai tidak elok karena toh sebenarnya antara SBY-JK adalah ibarat dua sisi mata uang. Hanya sangat disayangkan, SBY seharusnya juga bisa menunjukkan kemampuannya menyerang, karena tentu saja lawan-lawannya juga bukan tidak punya kekurangan.
Yang menarik adalah sebelum acara berakhir, bahkan sebenarnya sudah berakhir namun masih ada waktu tersisa. Pertanyaan yang dilontarkan adalah apa yang akan dilakukan Capres jika tidak terpilih jadi capres? Jawaban-jawaban cukup membuat suasana menjadi segar. Namun itu pelru dibuktikan saat hasil Pilpres 8 Juli mendatang diumumkan. Sebab, dari gelagatnya, apa yang terjadi di Jawa Timur, permintaan adanya pilpres ulang, tidak menerima hasil pilpres, bisa saja terjadi. Indikasi jelas, masalah DPT akan terus menjadi beban dan penyulut capres untuk tidak menerima hasil Pilpres. Mudah-mudahan saja itu tidak terjadi, dan semua capres mengucapkan dan merayakan kemenangan capres terpilih, serta mendukungnya di kemudian hari, demi Indonesia yang lebih maju, mandiri, sehat dan cerdas.
25 Juni 2009
Debat Capres Putaran Kedua
*JK Berubah, SBY Tetap Tenang, Mega Harus Berubah
Debat Calon Presiden untuk Pemilu 8 Juli mendatang kembali digelar. Dibanding Debat Capres yang pertama, Debat Capres kali ini terasa lebih hidup. Mungkin didukung oleh moderator Aviliani yang secara lugas dan tanpa beban melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada para kandidat, serta mungkin para kandidat sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan debat, dan tentunya termasuk kebebasan yang diberikan jika para kandidat ingin berjalan-jalan di panggung (tidak diam di tempat saja) saat menjawab pertanyaan.
Yang cukup mencolok berubah adalah JK dimana JK kembali menjadi dirinya sendiri. Setelah dalam debat pertama yang nampaknya JK berada di bawah bayang-bayang SBY, yang secara psikologis masih bermitra sebagai Wakil Presiden, dengan batik panjang yang dikenakannya, JK berubah menjadi lebih percaya diri dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan tangkas.
Sementara itu, SBY tetap tenang seperti biasa, menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan hati-hati. Namun begitu, ketika ada sentilan-sentilan dari kandidat lain, SBY juga tidak kalah sigap membalas sentilan-sentilan, sehingga membuat ebat menjadi lebih hidup. Namun memang, saling sentil yang terjadi belum mengarah pada posisi menjelek-jelekan atau bahkan saling menjatuhkan.
Yang nampaknya tidak berubah adalah Megawati. Mega mungkin nampaknya perlu lebih bersemangat dalam menjawab pertanyaan, konsisten dan lebih melihat ke depan. Sebab, dalam beberapa kali menjawab, Mega selalu kembali ke belakang (flash back) tentang apa yang sudah dilakukannya dulu sewaktu menjadi Presiden. Tanpa cara pandang yang lebih luas, keluar dari kungkungan apa yang dilakukan pada masa lalu (terlebih apresiasi prestasi terhadap Mega tidak begitu baik, terbukti Mega kalah dalam Pipres 2004), membuat Mega yang dulu akan sama dengan Mega sekarang, yang muaranya akan kalah lagi dalam Pilpres mendatang. Memang Mega sempat mengemukakan bahwa JK pernah menjadi ”pembantunya” (baca: Menko Kesra-nya), namun arah pembicaraanya ke mana tidak secara jelas disampaikan.
Secara keseluruhan, Debat Capres kali ini lebih baik, namun memang tetap harus dicoba untuk menggunakan sistem panelis, sehingga proses elaborasi dan variasi pertanyaan juga akan lebih berwarna. Yang juga belum berubah adalah debat yang sering terpotong oleh iklan-iklan. Sehingga yang terjadi seperti parade iklan yang diselingi debat. Iklan sesungguhnya bisa disampaikan di saat pembuka dan penutup saja.
Debat Calon Presiden untuk Pemilu 8 Juli mendatang kembali digelar. Dibanding Debat Capres yang pertama, Debat Capres kali ini terasa lebih hidup. Mungkin didukung oleh moderator Aviliani yang secara lugas dan tanpa beban melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada para kandidat, serta mungkin para kandidat sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan debat, dan tentunya termasuk kebebasan yang diberikan jika para kandidat ingin berjalan-jalan di panggung (tidak diam di tempat saja) saat menjawab pertanyaan.
Yang cukup mencolok berubah adalah JK dimana JK kembali menjadi dirinya sendiri. Setelah dalam debat pertama yang nampaknya JK berada di bawah bayang-bayang SBY, yang secara psikologis masih bermitra sebagai Wakil Presiden, dengan batik panjang yang dikenakannya, JK berubah menjadi lebih percaya diri dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan tangkas.
Sementara itu, SBY tetap tenang seperti biasa, menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan hati-hati. Namun begitu, ketika ada sentilan-sentilan dari kandidat lain, SBY juga tidak kalah sigap membalas sentilan-sentilan, sehingga membuat ebat menjadi lebih hidup. Namun memang, saling sentil yang terjadi belum mengarah pada posisi menjelek-jelekan atau bahkan saling menjatuhkan.
Yang nampaknya tidak berubah adalah Megawati. Mega mungkin nampaknya perlu lebih bersemangat dalam menjawab pertanyaan, konsisten dan lebih melihat ke depan. Sebab, dalam beberapa kali menjawab, Mega selalu kembali ke belakang (flash back) tentang apa yang sudah dilakukannya dulu sewaktu menjadi Presiden. Tanpa cara pandang yang lebih luas, keluar dari kungkungan apa yang dilakukan pada masa lalu (terlebih apresiasi prestasi terhadap Mega tidak begitu baik, terbukti Mega kalah dalam Pipres 2004), membuat Mega yang dulu akan sama dengan Mega sekarang, yang muaranya akan kalah lagi dalam Pilpres mendatang. Memang Mega sempat mengemukakan bahwa JK pernah menjadi ”pembantunya” (baca: Menko Kesra-nya), namun arah pembicaraanya ke mana tidak secara jelas disampaikan.
Secara keseluruhan, Debat Capres kali ini lebih baik, namun memang tetap harus dicoba untuk menggunakan sistem panelis, sehingga proses elaborasi dan variasi pertanyaan juga akan lebih berwarna. Yang juga belum berubah adalah debat yang sering terpotong oleh iklan-iklan. Sehingga yang terjadi seperti parade iklan yang diselingi debat. Iklan sesungguhnya bisa disampaikan di saat pembuka dan penutup saja.
23 Juni 2009
Catatan Kecil Debat Cawapres
Setelah beberapa hari lalu digelar Debat Capres untuk Pemilihan Presiden Putaran I 8 Juli mendatang, malam ini giliran para pendamping, calon wakil presiden, yang dipertemukan dalam Debat Cawapres. Hadir tiga kandidat cawapres : Prabowo Subianto, Boediono dan Wiranto. Acara dimoderatori oleh Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta Komaruddin Hidayat. Entah bagaimana, Komaruddin sebelumnya juga adalah Rektor Universitas Paramadina, sama seperti moderator Debat Capres yang lalu, Anis Baswedan.
Debat ini cukup menarik, mengingat selamat ini Cawapres selalu digandengkan dengan Capres, atau diistilahkan dengan satu paket, sehingga jarang cawapres diuji kemampuan dalam menjawab masalah-masalah bangsa, kemampuan berbicara, dan segala macam kemampuan lainnya, secara sendiri.
Terlepas apakah Debat Cawapres ini akan mempengaruhi pilihan rakyat dalam Pilpres nanti atau tidak, mengingat figur Capres yang tentu akan lebih kuat, ada beberapa catatan yang bisa diambil dari komunikasi politik yang disampaikan maupun terlihat dari para kandidat Cawapres:
1. Penampilan. Penampilan ketiga kandidat cawapres hampir senada, dengan peci hitam. Entah, apakah memang untuk mencerminkan citra seorang muslim atau seperti apa, sesungguhnya yang perlu diingat adalah jika sebagai aksesoris, tidak semua orang cocok dan pas menggunakan peci. Prabowo dan Boediono memakai batik, sementara Wiranto memakai baju kemeja panjang. Catatan yang menarik, batik yang dipakai Prabowo sudah terlalu sering dipakai sehingga hal itu bisa diterjemahkan bahwa Prabowo ingin menunjukkan continuity (ini biasa dilakukan agar rakyat/publik selalu ingat dirinya dalam ”bentuk” yang sama di berbagai forum, atau Prabowo tidak punya corak batik lainnya, tentu hanya Prabowo yang bisa menjawab. Jika di Amerika Serikat Clinton sebelum jadi Presiden dipermak agar tampak lebih tua dengan mengecat rambutnya jadi putih, para cawapres nampaknya perlu mempermak dirinya agar tampak lebih segar dan muda, sebab betapapun mayoritas pemilih Pemilu tetaplah orang-orang/generasi muda.
2. Secara materi, pertanyaan dalam topik ”Membangun Jati Diri Bangsa” merupakan topik yang terbuka sehingga tiap Cawapres bisa menerjemahkan menurut pengalaman masing-masing. Sehingga, beda saat debat Capres, walalupun Boediono sebagai orang pemerintahan, tidak langsung itu berarti Boediono diuntungkan, apalagi Prabowo maupun Wiranto merupakan orang dengan didikan militer kental, sehingga topik ini hanya merupakan pengejawantahan sikap dan pengalaman yang didapat selama ini, bahkan bisa jadi memeprtegas iklan-iklan kampanye mereka, seperti iklan Prabowo yang mengusung masalah utang, kemiskinan, kemandirian bangsa bahkan menjadi ”Macan Asia”.
3. Isi dan Cara Menjawab Pertanyaan. Dari cara menjawab, Wiranto terkesan mengusai panggung dan lebih santai, bahkan diselingi dengan menyanyi. Boediono secara makro mengetahui persoalan yang diajukan, namun memang terlihat beberapa hal berada di luar kemampuannya menjawab, sehingga yang terjawab adalah hal-hal yang normatif saja. Pembawaan Boediono yang begitu tenang dan kalem, memang tidak bisa diharapkan Boediono akan bicara meledak-ledak. Namun, jawaban Boediono yang terlalu berhati-hati juga sangat kentara seklai, sehingga terasa tidak lepas. Mungkin jika topiknya soal ekonomi Boediono akan bicara hal-hal yang lebih dalam dan strategis, daripada seperti saat ini yang hanya kulit-kulit luar-nya saja. Prabowo tampil dengan semangat, namun nampaknya kurang “galak” dan ”menggebu-gebu” seperti yang disuarakannya dalam iklan-iklan kampanye-nya.
4. Konsistensi Program. Semua kandidat sangat konsisten menonjolkan dan mengkomunikasikan pesan/motto kampanyenya dalam Debat Cawapres ini. Namun mungkin yang terjadi, agak sulit juga menghubungkan isu-isu yang diharus ditanggapi Cawapres dengan motto kampanye nya, kecuali saat prolog dan epilog saja.
Adapun secara umum, ada beberapa catatan mengenai debat Cawapres ini:
1. Posisi moderator agak sedikit tidak sentral, berbeda saat Debat Cpares sebelumnya, sehingga bintangnya tetap adalah para kandidat Cawapres. Namun begitu, tetap perlu dipertimbangkan bahwa baiknya menggunakan sistem panelis, sehingga nilai ke-”bintang”-an capres/cawapres tetap bersinar, sebab perhatian publik akan ke capres bukan moderator tunggal karena sistem panelis.
2. Acara Debat Cawapres ini terasa hilang ruh-nya saat harus terpotong dengan iklan-iklan, sehingga yang terjadi seperti parade iklan yang diselingi Debat Cawapres. Baiknya, iklan disajikan di awal dan akhir debat saja, sementara acaranya Debat nya sendiri harus lah utuh sebagai satu kesatuan, sebagaimana debat sesungguhnya yang terjadi bisa off air. Ini cukup serius.
3. Meski hampir sama dengan saat Debat Capres, debat yang sesungguhnya belum terjadi, meski ini yang dikatakan tim kampanye para Capres/Cawapres sebagai debat ala Timur. Perbedaan pendapat sudah mulai dimunculkan, meski itu kurang tajam. Agar tajam, sesungguhnya moderator bisa masuk untuk lebih mendalam pendapat dan memperdebatkannya dengan pendapat kandidat lainnya. Yang justru ramai adalah tayangan seperti di TVOne, dimana terjadi perdebatan di antara Tim Kampanye pasangan Capres/Cawapres, plus dengan para pengamat politik—yang nampaknya juga “fans” bahkan nampak sekali jadi “pembela” pasangan Capres/Cawapres. Untuk kasus ini, saya iseng-iseng bertanya ke putri saya, suka yang mana acara debatnya, eh benar, dia pilih perdebatan yang terjadi antara Tim Kampanye pasangan Capres/Cawapres, plus dengan para pengamat politik. “Lebih hidup dan tidak bikin boring,” katanya hehe anak kecil saja tahu ya... (herusutadi@hotmail.com)
Debat ini cukup menarik, mengingat selamat ini Cawapres selalu digandengkan dengan Capres, atau diistilahkan dengan satu paket, sehingga jarang cawapres diuji kemampuan dalam menjawab masalah-masalah bangsa, kemampuan berbicara, dan segala macam kemampuan lainnya, secara sendiri.
Terlepas apakah Debat Cawapres ini akan mempengaruhi pilihan rakyat dalam Pilpres nanti atau tidak, mengingat figur Capres yang tentu akan lebih kuat, ada beberapa catatan yang bisa diambil dari komunikasi politik yang disampaikan maupun terlihat dari para kandidat Cawapres:
1. Penampilan. Penampilan ketiga kandidat cawapres hampir senada, dengan peci hitam. Entah, apakah memang untuk mencerminkan citra seorang muslim atau seperti apa, sesungguhnya yang perlu diingat adalah jika sebagai aksesoris, tidak semua orang cocok dan pas menggunakan peci. Prabowo dan Boediono memakai batik, sementara Wiranto memakai baju kemeja panjang. Catatan yang menarik, batik yang dipakai Prabowo sudah terlalu sering dipakai sehingga hal itu bisa diterjemahkan bahwa Prabowo ingin menunjukkan continuity (ini biasa dilakukan agar rakyat/publik selalu ingat dirinya dalam ”bentuk” yang sama di berbagai forum, atau Prabowo tidak punya corak batik lainnya, tentu hanya Prabowo yang bisa menjawab. Jika di Amerika Serikat Clinton sebelum jadi Presiden dipermak agar tampak lebih tua dengan mengecat rambutnya jadi putih, para cawapres nampaknya perlu mempermak dirinya agar tampak lebih segar dan muda, sebab betapapun mayoritas pemilih Pemilu tetaplah orang-orang/generasi muda.
2. Secara materi, pertanyaan dalam topik ”Membangun Jati Diri Bangsa” merupakan topik yang terbuka sehingga tiap Cawapres bisa menerjemahkan menurut pengalaman masing-masing. Sehingga, beda saat debat Capres, walalupun Boediono sebagai orang pemerintahan, tidak langsung itu berarti Boediono diuntungkan, apalagi Prabowo maupun Wiranto merupakan orang dengan didikan militer kental, sehingga topik ini hanya merupakan pengejawantahan sikap dan pengalaman yang didapat selama ini, bahkan bisa jadi memeprtegas iklan-iklan kampanye mereka, seperti iklan Prabowo yang mengusung masalah utang, kemiskinan, kemandirian bangsa bahkan menjadi ”Macan Asia”.
3. Isi dan Cara Menjawab Pertanyaan. Dari cara menjawab, Wiranto terkesan mengusai panggung dan lebih santai, bahkan diselingi dengan menyanyi. Boediono secara makro mengetahui persoalan yang diajukan, namun memang terlihat beberapa hal berada di luar kemampuannya menjawab, sehingga yang terjawab adalah hal-hal yang normatif saja. Pembawaan Boediono yang begitu tenang dan kalem, memang tidak bisa diharapkan Boediono akan bicara meledak-ledak. Namun, jawaban Boediono yang terlalu berhati-hati juga sangat kentara seklai, sehingga terasa tidak lepas. Mungkin jika topiknya soal ekonomi Boediono akan bicara hal-hal yang lebih dalam dan strategis, daripada seperti saat ini yang hanya kulit-kulit luar-nya saja. Prabowo tampil dengan semangat, namun nampaknya kurang “galak” dan ”menggebu-gebu” seperti yang disuarakannya dalam iklan-iklan kampanye-nya.
4. Konsistensi Program. Semua kandidat sangat konsisten menonjolkan dan mengkomunikasikan pesan/motto kampanyenya dalam Debat Cawapres ini. Namun mungkin yang terjadi, agak sulit juga menghubungkan isu-isu yang diharus ditanggapi Cawapres dengan motto kampanye nya, kecuali saat prolog dan epilog saja.
Adapun secara umum, ada beberapa catatan mengenai debat Cawapres ini:
1. Posisi moderator agak sedikit tidak sentral, berbeda saat Debat Cpares sebelumnya, sehingga bintangnya tetap adalah para kandidat Cawapres. Namun begitu, tetap perlu dipertimbangkan bahwa baiknya menggunakan sistem panelis, sehingga nilai ke-”bintang”-an capres/cawapres tetap bersinar, sebab perhatian publik akan ke capres bukan moderator tunggal karena sistem panelis.
2. Acara Debat Cawapres ini terasa hilang ruh-nya saat harus terpotong dengan iklan-iklan, sehingga yang terjadi seperti parade iklan yang diselingi Debat Cawapres. Baiknya, iklan disajikan di awal dan akhir debat saja, sementara acaranya Debat nya sendiri harus lah utuh sebagai satu kesatuan, sebagaimana debat sesungguhnya yang terjadi bisa off air. Ini cukup serius.
3. Meski hampir sama dengan saat Debat Capres, debat yang sesungguhnya belum terjadi, meski ini yang dikatakan tim kampanye para Capres/Cawapres sebagai debat ala Timur. Perbedaan pendapat sudah mulai dimunculkan, meski itu kurang tajam. Agar tajam, sesungguhnya moderator bisa masuk untuk lebih mendalam pendapat dan memperdebatkannya dengan pendapat kandidat lainnya. Yang justru ramai adalah tayangan seperti di TVOne, dimana terjadi perdebatan di antara Tim Kampanye pasangan Capres/Cawapres, plus dengan para pengamat politik—yang nampaknya juga “fans” bahkan nampak sekali jadi “pembela” pasangan Capres/Cawapres. Untuk kasus ini, saya iseng-iseng bertanya ke putri saya, suka yang mana acara debatnya, eh benar, dia pilih perdebatan yang terjadi antara Tim Kampanye pasangan Capres/Cawapres, plus dengan para pengamat politik. “Lebih hidup dan tidak bikin boring,” katanya hehe anak kecil saja tahu ya... (herusutadi@hotmail.com)
18 Juni 2009
Komunikasi Politik dan Catatan Kritis Debat Calon Presiden
Malam ini (18/62009), digelar acara Debat Capres untuk Pemilihan Presiden Putaran I 8 Juli mendatang. Dalam acara yang disiarkan secara langsung beberapa stasiun televisi, hadir kandidat presiden: Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Debab Capres dimoderatori oleh Anis Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, dengan pembawa acara adalah Helmi Yahya.
Debat Capres ini tentu amat sangat berpengaruh terhadap publik dalam menentukan pilihan pada Pilpres mendatang. Dan tentunya, dapat dianalisis secara komunikasi politik. Selain analisis komunikasi politik ketiganya, ada beberapa catatan kritis mengenai debat ini.
Analisis Komunikasi Politik
Debat capres merupakan bagian dari pemasaran politik, sehingga momentum ini perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menggaet pembeli (baca: pemilih). Satu hal terpenting dalam pemasaran politik yang dapat dipakai politisi untuk mengendalikan opini publik adalah citra mengenai dirinya. Dalam era televisi dimana kesempatan menyampaikan pendapat dalam hitungan detik, masyarakat menilai politisi dalam waktu yang singkat sehingga kesan yang tertinggal dalam benak pemirsa lebih penting daripada pesan.
Citra merk untuk sebuah produk mewakili semua persepsi tentang merk dan dibentuk berdasar informasi yang dimiliki konsumen tentang merk tersebut termasuk juga pengalaman pribadi yang berkait dengan merk tersebut. Citra dari merk juga diasosiasikan dengan perusahaan penjualnya. Perubahan karakteristik fisik dari merk dapat mengubah citra umum tentang produk.
Sama dengan citra merk, citra politik tidak dapat dipisahkan dari obyek politik yang mempengaruhi perasaan orang dan sikap tentang politisi. Dalam politik, citra diciptakan melalui impresi visual yang dikomunikasikan lewat tampilan fisik politisi, kemunculan di media, pengalaman serta rekornya sebagai pemimpin politik yang semua informasi tersebut terintegrasikan ke dalam pemikiran rakyat. Citra dari kandidat juga dipengaruhi oleh seberapa besar dukungan rakyat dalam negara kepadanya.
Agar sukses dalam memasarkan produk atau politisi, citra yang jelas harus disampaikan dalam pesan tunggal yang menggambarkan produk atau sifat utama dari politisi. Pesan juga harus disampaikan secara berbeda sehingga tidak membingungkan dengan pesan yang sama dari kompetitor lain. Agar efektif, citra harus dikomunikasikan secara konsisten pada setiap pesan.
Dari Debat Capres ini, beberapa analisis yang dapat saya kemukakan:
1. Secara materi, pertanyaan dalam topik ”Tata Pemerintahan dan Penegakan Supremasi Hukum” tentu incumbent, yaitu SBY dan JK cukup diuntungkan mengingat keduanya paham dan sangat tahu isu-isu dan perkembangan terakhir mengenai topik yang dimaksud, sehingga angka dan data bisa disajikan dengan baik. Mega, karena sudah meninggalkan kursi kepresiden sejak 2004, hanya bisa mengungkap apa yang telah dikerjakannya di masa lalu.
2. Penampilan. Penampilan SBY cukup sederhana dan gagah, sementara Mega cukup memberikan gambaran seorang calon Ibu bangsa, dengan pakaian cukup baik berwarna cerah. Sementara mungkin JK perlu melakukan perbaikan mengingat pakaiannya—jas—hari ini kurang begitu pas di badan, dan ini agak aneh padahal JK biasanya menggunakan pakaian ”biasa” (bukan jas), sehingga terlihat JK agak kurang sederhana—meski jas yang dipakainya tanpa dasi.
3. Isi dan Cara Menjawab Pertanyaan. Cara menjawab ketiganya, secara umum bersifat normatif, dan lebih banyak saling mendukung, tak ada perbedaan tajam ketiganya. Mega lebih hal-hal bersifat praktis, demikian juga JK, sementara SBY lebih bersifat makro dan strategis. Diakui atau tidak, jawaban SBY lebih taktis dibanding Megadan JK, namun untuk kesederhanaan isi jawaban, apa yang disampaikan Mega lebih sederhana, mudah dicerna, meski tingkat analisis Mega dalam menjawab juga tidak dalam. JK sendiri dalam debat capres ini kurang memberikan jawaban taktis dan bebas seperti selama ini jika tampil sendiri. Posisinya tampil bersama dengan SBY, yang presiden, nampaknya mempengaruhi psikologis JK.
4. Konsistensi Program. SBY dan JK terus mengkomunikasikan pesan/motto kampanyenya dalam Debat Capres ini. SBY berulang kali mengemukakan kata ”lanjutkan” dan JK juga memberikan catatan penutup ”Lebih Cepat, Lebih Baik”. Mega dalam hal ini agak kurang menonjolkan slogan yang selama ini diusungnya, ”Membangun Ekonomi Kerakyatan”, atau mungkin karena topiknya bukan ekonomi, sehingga persoalan ekonomi kerakyatan belum terlalu dielaborasi oleh Mega.
Catatan Kritis Debat Capres
Beberapa catatan kritis yang dapat saya berikan:
1. Posisi ketiga capres dibanding posisi Anis Baswedan sebagai moderator, terasa yang menjadi ”bintang” adalah Anis. Sebab, selain memoderatori acara, Anis seperti dosen penguji tunggal yang menguji tiga mahasiswa sekaligus. Ke depan, perlu dipertimbangkan menggunakan sistem panelis, sehingga nilai ke-”bintang”-an capres/cawapres tetap bersinar, sebab perhatian publik akan ke capres bukan moderator tunggal karena sistem panelis.
2. Sesuai dengan namanya Debat Capres, acara ini tidak memunculkan perdebatan sesungguhnya, karena ketika ada satu isu, yang harusnya diharapkan adanya perbedaan pandangan, namun ternyata hampir senada—kalau tak mau dibilang sama, termasuk juga Megawati yang meng-klaim sebagai oposisi pemerintah, yang mana SBY dan JK dalam posisi hingga kini masih sebagai orang pemerintahan. Harusnya dilemparkan isu-isu terkini yang memang terdapat pro dan kontra antara mereka, dan dalam bentuk pertanyaan yang tajam bukan normatif. Misalnya: ”Menurut Bapak/Ibu Capres, siapakah yang paling berperan dalam perdamaian Aceh”, atau ”Apa peran Bapak/Ibu Capres dalam swasembada pangan”, sebab klaim-klaim sepihak itulah yang perlu didengar masyarakat, siapa sebenarnya yang bekerja dan punya ide-ide brilian.
3. Hendaknya acara Debat Capres tidak dicampurkan dengan budaya massa--politainment, yang kerap diselingi iklan, sehingga terasa iklan lebih mendominasi acara dibanding debat itu sendiri, dan juga rasa serta fokus debat, yang tensinya bisa kian meningkat kehangatannya, namun karena diselingi iklan jadi dingin kembali.
Debat Capres ini tentu amat sangat berpengaruh terhadap publik dalam menentukan pilihan pada Pilpres mendatang. Dan tentunya, dapat dianalisis secara komunikasi politik. Selain analisis komunikasi politik ketiganya, ada beberapa catatan kritis mengenai debat ini.
Analisis Komunikasi Politik
Debat capres merupakan bagian dari pemasaran politik, sehingga momentum ini perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menggaet pembeli (baca: pemilih). Satu hal terpenting dalam pemasaran politik yang dapat dipakai politisi untuk mengendalikan opini publik adalah citra mengenai dirinya. Dalam era televisi dimana kesempatan menyampaikan pendapat dalam hitungan detik, masyarakat menilai politisi dalam waktu yang singkat sehingga kesan yang tertinggal dalam benak pemirsa lebih penting daripada pesan.
Citra merk untuk sebuah produk mewakili semua persepsi tentang merk dan dibentuk berdasar informasi yang dimiliki konsumen tentang merk tersebut termasuk juga pengalaman pribadi yang berkait dengan merk tersebut. Citra dari merk juga diasosiasikan dengan perusahaan penjualnya. Perubahan karakteristik fisik dari merk dapat mengubah citra umum tentang produk.
Sama dengan citra merk, citra politik tidak dapat dipisahkan dari obyek politik yang mempengaruhi perasaan orang dan sikap tentang politisi. Dalam politik, citra diciptakan melalui impresi visual yang dikomunikasikan lewat tampilan fisik politisi, kemunculan di media, pengalaman serta rekornya sebagai pemimpin politik yang semua informasi tersebut terintegrasikan ke dalam pemikiran rakyat. Citra dari kandidat juga dipengaruhi oleh seberapa besar dukungan rakyat dalam negara kepadanya.
Agar sukses dalam memasarkan produk atau politisi, citra yang jelas harus disampaikan dalam pesan tunggal yang menggambarkan produk atau sifat utama dari politisi. Pesan juga harus disampaikan secara berbeda sehingga tidak membingungkan dengan pesan yang sama dari kompetitor lain. Agar efektif, citra harus dikomunikasikan secara konsisten pada setiap pesan.
Dari Debat Capres ini, beberapa analisis yang dapat saya kemukakan:
1. Secara materi, pertanyaan dalam topik ”Tata Pemerintahan dan Penegakan Supremasi Hukum” tentu incumbent, yaitu SBY dan JK cukup diuntungkan mengingat keduanya paham dan sangat tahu isu-isu dan perkembangan terakhir mengenai topik yang dimaksud, sehingga angka dan data bisa disajikan dengan baik. Mega, karena sudah meninggalkan kursi kepresiden sejak 2004, hanya bisa mengungkap apa yang telah dikerjakannya di masa lalu.
2. Penampilan. Penampilan SBY cukup sederhana dan gagah, sementara Mega cukup memberikan gambaran seorang calon Ibu bangsa, dengan pakaian cukup baik berwarna cerah. Sementara mungkin JK perlu melakukan perbaikan mengingat pakaiannya—jas—hari ini kurang begitu pas di badan, dan ini agak aneh padahal JK biasanya menggunakan pakaian ”biasa” (bukan jas), sehingga terlihat JK agak kurang sederhana—meski jas yang dipakainya tanpa dasi.
3. Isi dan Cara Menjawab Pertanyaan. Cara menjawab ketiganya, secara umum bersifat normatif, dan lebih banyak saling mendukung, tak ada perbedaan tajam ketiganya. Mega lebih hal-hal bersifat praktis, demikian juga JK, sementara SBY lebih bersifat makro dan strategis. Diakui atau tidak, jawaban SBY lebih taktis dibanding Megadan JK, namun untuk kesederhanaan isi jawaban, apa yang disampaikan Mega lebih sederhana, mudah dicerna, meski tingkat analisis Mega dalam menjawab juga tidak dalam. JK sendiri dalam debat capres ini kurang memberikan jawaban taktis dan bebas seperti selama ini jika tampil sendiri. Posisinya tampil bersama dengan SBY, yang presiden, nampaknya mempengaruhi psikologis JK.
4. Konsistensi Program. SBY dan JK terus mengkomunikasikan pesan/motto kampanyenya dalam Debat Capres ini. SBY berulang kali mengemukakan kata ”lanjutkan” dan JK juga memberikan catatan penutup ”Lebih Cepat, Lebih Baik”. Mega dalam hal ini agak kurang menonjolkan slogan yang selama ini diusungnya, ”Membangun Ekonomi Kerakyatan”, atau mungkin karena topiknya bukan ekonomi, sehingga persoalan ekonomi kerakyatan belum terlalu dielaborasi oleh Mega.
Catatan Kritis Debat Capres
Beberapa catatan kritis yang dapat saya berikan:
1. Posisi ketiga capres dibanding posisi Anis Baswedan sebagai moderator, terasa yang menjadi ”bintang” adalah Anis. Sebab, selain memoderatori acara, Anis seperti dosen penguji tunggal yang menguji tiga mahasiswa sekaligus. Ke depan, perlu dipertimbangkan menggunakan sistem panelis, sehingga nilai ke-”bintang”-an capres/cawapres tetap bersinar, sebab perhatian publik akan ke capres bukan moderator tunggal karena sistem panelis.
2. Sesuai dengan namanya Debat Capres, acara ini tidak memunculkan perdebatan sesungguhnya, karena ketika ada satu isu, yang harusnya diharapkan adanya perbedaan pandangan, namun ternyata hampir senada—kalau tak mau dibilang sama, termasuk juga Megawati yang meng-klaim sebagai oposisi pemerintah, yang mana SBY dan JK dalam posisi hingga kini masih sebagai orang pemerintahan. Harusnya dilemparkan isu-isu terkini yang memang terdapat pro dan kontra antara mereka, dan dalam bentuk pertanyaan yang tajam bukan normatif. Misalnya: ”Menurut Bapak/Ibu Capres, siapakah yang paling berperan dalam perdamaian Aceh”, atau ”Apa peran Bapak/Ibu Capres dalam swasembada pangan”, sebab klaim-klaim sepihak itulah yang perlu didengar masyarakat, siapa sebenarnya yang bekerja dan punya ide-ide brilian.
3. Hendaknya acara Debat Capres tidak dicampurkan dengan budaya massa--politainment, yang kerap diselingi iklan, sehingga terasa iklan lebih mendominasi acara dibanding debat itu sendiri, dan juga rasa serta fokus debat, yang tensinya bisa kian meningkat kehangatannya, namun karena diselingi iklan jadi dingin kembali.
01 Juni 2009
Tulisanku Mengenai Tantangan TIK bagi Presiden Mendatang Dimuat Bisnis Indonesia
Alhamdulillah, hari ini tulisan ku dimuat di rubrik opini harian Bisnis Indonesia. Terima kasih Bisnis Indonesia.
Berikut isi lengkapnya:
Tantangan TIK untuk presiden mendatang
Sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat berkepentingan terhadap pemilihan presiden dan siapa yang akan terpilih sebagai pasangan presiden dan wakil presiden. Pertama, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam Pemilu Legislatif April lalu memberikan citra negatif terhadap pemanfaatan TIK. Meski mengeluarkan biaya tidak sedikit, TIK dinilai tidak mampu membantu mempercepat penetapan hasil pemilu. Hasil yang tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada Pemilu 2004.
Alhasil, pilpres mendatang menjadi ujian apakah TIK hanya sekadar menghabiskan uang negara atau membantu mengakselerasi hasil perhitungan suara secepat hitung cepat (quick count).
Kedua, peran TIK ke depan akan menjadi demikian signifikan seiring dengan perubahan paradigma ekonomi, dari ekonomi industri ke arah ekonomi digital yang kreatif, apalagi pada 2015.
Dalam World Summit on Information Society (WSIS) telah disepakati bahwa di tahun tersebut, separuh penduduk dunia diharapkan sudah terkoneksi ke Internet.
Di tingkat ASEAN dan APEC bahkan disepakati dengan kewajiban broadband service obligation (BSO), sehingga seluruh desa yang diharapkan sudah mempunyai akses telepon pada 2010 perlu ditingkatkan dengan terkoneksi ke Internet berpita lebar (broadband).
Pada hari Kebangkitan Nasional 20 Mei lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan dua milestone terkait dengan TIK, yaitu uji coba televisi digital dan peresmian akses telekomunikasi di daerah terpencil dan wilayah perbatasan.
Upaya ini penting dicatat mengingat migrasi dari analog ke digital merupakan sebuah keniscyaan yang tidak bisa diabaikan, dan pemasangan telepon ke desa-desa merupakan jawaban pengentasan kemiskinan akses telekomunikasi 31.824 desa yang belum tersentuh teleponi dasar.
Dalam banyak studi dipercaya peningkatan infrastruktur telekomunikasi memberikan kontribusi signifikan dalam pertumbuhan ekonomi. Namun, peresmian tersebut tentu bukanlah menjadi akhir tantangan sektor TIK Indonesia.
Indikator kemampuan Indonesia dalam memanfaatkan TIK dalam pembangunan ekonomi di antaranya dapat dilihat dalam E-Readiness yang dikeluarkan The Economist Intelligence Unit.
Untuk 2008, Indonesia hanya berada di peringkat 68, turun satu peringkat dari tahun sebelumnya, dengan nilai 3.59, sedangkan menurut World Economic Forum dalam Global Information Technology Report 2008-2009, Indonesia berada pada posisi 83 dari 134 negara, di bawah Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam.
Untuk mengubah kondisi-apalagi Presiden Yudhoyono pernah meyakini bahwa pada 2030 nasib Indonesia akan berubah-menjadi satu dari lima negara maju di dunia-ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan oleh presiden terpilih mendatang terkait dengan ICTnomic (ekonomi berbasis TIK).
Hal itu adalah konektivitas dan infrastruktur, lingkungan bisnis, lingkungan sosial dan budaya serta visi dan kebijakan pemerintah. Dalam hal konektivitas dan infrastruktur ada tiga tantangan utama: ketersediaan akses yang mengarah ke broadband, tarif yang terjangkau bagi masyarakat serta layanan yang berkualitas bagi semua.
Dalam hal lingkungan bisnis, perlu ditekankan bahwa menambahkan "e" (electronic) di depan e-commerce, e-government, e-health dan e-education, tidaklah mengubah hal utamanya menyangkut commerce, government, health ataupun education.
Terkait dengan sosial dan budaya, SDM Indonesia perlu mendapat literasi mengenai pemanfaatan TIK dan menggunakannya secara cerdas. Pada akhir 2008, diperkirakan jumlah pengguna Internet Indonesia baru sekitar 30 juta atau sekitar 13% dari populasi yang ada.
Sulit rasanya bicara ekonomi digital jika edukasi masyarakat dan pengetahuan mengenai Internet tidak cukup baik. Yang cukup unik, selain masyarakat yang sudah melek Internet, Indonesia sejatinya masih memiliki masyarakat yang ada di pedalaman dan masih alergi terhadap pemanfaatan teknologi baru, ditambah dengan mayoritas masyarakat yang agraris.
Belajar dari Malaysia, negeri jiran yang bercokol di posisi 34 e-readiness, jauh-jauh hari yaitu pada 1991 PM Mahathir Muhammad mengemukakan Vision 2020 agar negaranya menjadi negara maju. Itu dilakukan dengan membangun Multimedia Super Corridor (MSC).
MSC merupakan proyek pembangunan terkait dengan TIK yang paling komprehensif. Lebih dari sekadar technology park, MSC merupakan kendaraan untuk mentransformasikan sosial dan ekonomi Malaysia menuju masyarakat berpengetahuan pada 2020.
Langkah Mesir dalam pengembangan industri dalam negeri layak juga dicontoh. Pada 2005 Pemerintah Mesir membentuk Information Technology Industry Development Authority (ITIDA) untuk membangun sektor TIK yang berorientasi ekspor.
Beberapa langkah yang dilakukan ITIDA di antaranya adalah membangun dan memperluas industri TIK di tingkat nasional, meningkatkan kesempatan bagi produk-produk TIK lanjutan Mesir untuk diekspor, memberi ruang bagi investasi di industri TIK serta membantu pembangunan dan pertumbuhan perusahaan yang bekerja di sektor TIK.
Belum masuk UU
Tantangan lainnya adalah menjawab perkembangan konvergensi. Konvergensi menjadi kunci masa depan TIK. Bahkan, tidak perlu menunggu waktu terlalu lama, konvergensi antara telekomunikasi, media (penyiaran) dan informatika telah hadir. Hanya saja, perkembangan tersebut belum tecermin dalam UU yang terkait dengan telekomunikasi, termasuk penyiaran.
Selain UU tersebut, UU lain yang bersinggungan dengan TIK adalah UU No. 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik serta UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Semangat utama perubahan menuju regulasi konvergen adalah menjaga harmonisasi antara kepentingan masyarakat banyak dan industri telekomunikasi, antara kemajuan teknologi konvergensi dengan kebutuhan masyarakat akan layanan teknologi informasi yang murah, andal, aman dan berkualitas, juga antara kepentingan nasional dan global.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah format regulator TIK ke depan. Saat ini ada begitu banyak lembaga negara yang dapat dijadikan perbandingan. Namun, industri konvergensi tentu membutuhkan regulator yang unik, tetapi harus independen dari kepentingan penyelenggara.
Adopsi masyarakat dan sektor bisnis terhadap pemanfaatan TIK juga perlu dikedepankan sebagai ukuran kesuksesan implementasi dari saluran digital untuk masyarakat dan kalangan bisnis.
Hal yang belum tergarap secara maksimal adalah membuat dan mengembangkan konten lokal yang mencerdaskan, menarik dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Dari trafik Internet Indonesia saat ini, mayoritas bersifat download dibandingkan dengan upload dan lari ke jaringan internasional. Inilah tantangan yang harus dijawab pemimpin mendatang.
Berikut isi lengkapnya:
Tantangan TIK untuk presiden mendatang
Sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat berkepentingan terhadap pemilihan presiden dan siapa yang akan terpilih sebagai pasangan presiden dan wakil presiden. Pertama, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam Pemilu Legislatif April lalu memberikan citra negatif terhadap pemanfaatan TIK. Meski mengeluarkan biaya tidak sedikit, TIK dinilai tidak mampu membantu mempercepat penetapan hasil pemilu. Hasil yang tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada Pemilu 2004.
Alhasil, pilpres mendatang menjadi ujian apakah TIK hanya sekadar menghabiskan uang negara atau membantu mengakselerasi hasil perhitungan suara secepat hitung cepat (quick count).
Kedua, peran TIK ke depan akan menjadi demikian signifikan seiring dengan perubahan paradigma ekonomi, dari ekonomi industri ke arah ekonomi digital yang kreatif, apalagi pada 2015.
Dalam World Summit on Information Society (WSIS) telah disepakati bahwa di tahun tersebut, separuh penduduk dunia diharapkan sudah terkoneksi ke Internet.
Di tingkat ASEAN dan APEC bahkan disepakati dengan kewajiban broadband service obligation (BSO), sehingga seluruh desa yang diharapkan sudah mempunyai akses telepon pada 2010 perlu ditingkatkan dengan terkoneksi ke Internet berpita lebar (broadband).
Pada hari Kebangkitan Nasional 20 Mei lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan dua milestone terkait dengan TIK, yaitu uji coba televisi digital dan peresmian akses telekomunikasi di daerah terpencil dan wilayah perbatasan.
Upaya ini penting dicatat mengingat migrasi dari analog ke digital merupakan sebuah keniscyaan yang tidak bisa diabaikan, dan pemasangan telepon ke desa-desa merupakan jawaban pengentasan kemiskinan akses telekomunikasi 31.824 desa yang belum tersentuh teleponi dasar.
Dalam banyak studi dipercaya peningkatan infrastruktur telekomunikasi memberikan kontribusi signifikan dalam pertumbuhan ekonomi. Namun, peresmian tersebut tentu bukanlah menjadi akhir tantangan sektor TIK Indonesia.
Indikator kemampuan Indonesia dalam memanfaatkan TIK dalam pembangunan ekonomi di antaranya dapat dilihat dalam E-Readiness yang dikeluarkan The Economist Intelligence Unit.
Untuk 2008, Indonesia hanya berada di peringkat 68, turun satu peringkat dari tahun sebelumnya, dengan nilai 3.59, sedangkan menurut World Economic Forum dalam Global Information Technology Report 2008-2009, Indonesia berada pada posisi 83 dari 134 negara, di bawah Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam.
Untuk mengubah kondisi-apalagi Presiden Yudhoyono pernah meyakini bahwa pada 2030 nasib Indonesia akan berubah-menjadi satu dari lima negara maju di dunia-ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan oleh presiden terpilih mendatang terkait dengan ICTnomic (ekonomi berbasis TIK).
Hal itu adalah konektivitas dan infrastruktur, lingkungan bisnis, lingkungan sosial dan budaya serta visi dan kebijakan pemerintah. Dalam hal konektivitas dan infrastruktur ada tiga tantangan utama: ketersediaan akses yang mengarah ke broadband, tarif yang terjangkau bagi masyarakat serta layanan yang berkualitas bagi semua.
Dalam hal lingkungan bisnis, perlu ditekankan bahwa menambahkan "e" (electronic) di depan e-commerce, e-government, e-health dan e-education, tidaklah mengubah hal utamanya menyangkut commerce, government, health ataupun education.
Terkait dengan sosial dan budaya, SDM Indonesia perlu mendapat literasi mengenai pemanfaatan TIK dan menggunakannya secara cerdas. Pada akhir 2008, diperkirakan jumlah pengguna Internet Indonesia baru sekitar 30 juta atau sekitar 13% dari populasi yang ada.
Sulit rasanya bicara ekonomi digital jika edukasi masyarakat dan pengetahuan mengenai Internet tidak cukup baik. Yang cukup unik, selain masyarakat yang sudah melek Internet, Indonesia sejatinya masih memiliki masyarakat yang ada di pedalaman dan masih alergi terhadap pemanfaatan teknologi baru, ditambah dengan mayoritas masyarakat yang agraris.
Belajar dari Malaysia, negeri jiran yang bercokol di posisi 34 e-readiness, jauh-jauh hari yaitu pada 1991 PM Mahathir Muhammad mengemukakan Vision 2020 agar negaranya menjadi negara maju. Itu dilakukan dengan membangun Multimedia Super Corridor (MSC).
MSC merupakan proyek pembangunan terkait dengan TIK yang paling komprehensif. Lebih dari sekadar technology park, MSC merupakan kendaraan untuk mentransformasikan sosial dan ekonomi Malaysia menuju masyarakat berpengetahuan pada 2020.
Langkah Mesir dalam pengembangan industri dalam negeri layak juga dicontoh. Pada 2005 Pemerintah Mesir membentuk Information Technology Industry Development Authority (ITIDA) untuk membangun sektor TIK yang berorientasi ekspor.
Beberapa langkah yang dilakukan ITIDA di antaranya adalah membangun dan memperluas industri TIK di tingkat nasional, meningkatkan kesempatan bagi produk-produk TIK lanjutan Mesir untuk diekspor, memberi ruang bagi investasi di industri TIK serta membantu pembangunan dan pertumbuhan perusahaan yang bekerja di sektor TIK.
Belum masuk UU
Tantangan lainnya adalah menjawab perkembangan konvergensi. Konvergensi menjadi kunci masa depan TIK. Bahkan, tidak perlu menunggu waktu terlalu lama, konvergensi antara telekomunikasi, media (penyiaran) dan informatika telah hadir. Hanya saja, perkembangan tersebut belum tecermin dalam UU yang terkait dengan telekomunikasi, termasuk penyiaran.
Selain UU tersebut, UU lain yang bersinggungan dengan TIK adalah UU No. 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik serta UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Semangat utama perubahan menuju regulasi konvergen adalah menjaga harmonisasi antara kepentingan masyarakat banyak dan industri telekomunikasi, antara kemajuan teknologi konvergensi dengan kebutuhan masyarakat akan layanan teknologi informasi yang murah, andal, aman dan berkualitas, juga antara kepentingan nasional dan global.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah format regulator TIK ke depan. Saat ini ada begitu banyak lembaga negara yang dapat dijadikan perbandingan. Namun, industri konvergensi tentu membutuhkan regulator yang unik, tetapi harus independen dari kepentingan penyelenggara.
Adopsi masyarakat dan sektor bisnis terhadap pemanfaatan TIK juga perlu dikedepankan sebagai ukuran kesuksesan implementasi dari saluran digital untuk masyarakat dan kalangan bisnis.
Hal yang belum tergarap secara maksimal adalah membuat dan mengembangkan konten lokal yang mencerdaskan, menarik dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Dari trafik Internet Indonesia saat ini, mayoritas bersifat download dibandingkan dengan upload dan lari ke jaringan internasional. Inilah tantangan yang harus dijawab pemimpin mendatang.
Langganan:
Postingan (Atom)