Tampilkan postingan dengan label kemerdekaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemerdekaan. Tampilkan semua postingan

18 Juli 2011

Puisi Kemerdekaan Untuk Sahabat


Puisi Kemerdekaan Untuk Sahabat*

Karya: Heru Sutadi

Sahabat,
masih ingat kah engkau
saat proklamasi dikumandangkan
dari depan sebuah rumah di Pegangsaan Timur
hari ketujuh belas bulan Agustus
Peristiwa itu sudah sekian tahun berlalu
tapi tanpa itu, tak ada negeri indah bernama Indonesia
pasang surut, susah senang, mengiringi kehidupan bumi pertiwi

Sahabat,
perjalanan dan kerja belum ini selesai
kemajuan memang terasa, tapi itu belum apa-apa
puluhan juta rakyat masih terjerat kemiskinan
puluhan juta rakyat belum mendapat pekerjaan
jalan-jalan rusak masih berserakan
listrik-listrik masih padam secara bergiliran
sementara negara-negara lain berlari makin kencang
yang mungkin meninggalkan kita di belakang

Sahabat,
ingatkah engkau
Kemerdekaan ini bukanlah hadiah dari penjajah
Kemerdekaan diperjuangkan dengan segenap raga, darah, jiwa

Sahabat,
sekian tahun sudah berlalu
tak ada lagi Soekarno, tak ada Hatta, tak ada Bapak bangsa
tapi semangat, cita-cita, harus terus dipelihara
sebab perjalanan belum selesai
kesejahteraan masih harus diperjuangkan
kecerdasan masih harus kita kejar
kemandirian jangan cuma diwacanakan
hutan-hutan harus terus dilestarikan
Negara Kesatuan tetap harus dikedepankan

Sahabat,
negara demokrasi akan kita masuki
demonstrasi sudah seperti nasi
kampanye digelar di sana sini
Presiden dan DPR pun bisa berganti-ganti
korupsi sedang dibasmi
membuat petinggi negeri masuk bui

Sahabat,
pancaroba sedang sama-sama kita alami
perubahan ada di sana sini
semoga semua bukan sekadar basa-basi
agar kemerdakaan ini menjadi lebih berarti
Bagi Mu Negeri
Jiwa Raga kami.


*Bagian dari Pentalogi: Indonesia Kini

13 Juli 2011

Sajak 66 Tahun Kemerdekaan


Sajak 66 Tahun Kemerdekaan*

Karya: Heru Sutadi

66 tahun sudah gerbang emas itu dilalui
66 tahun sudah Soekarno-Hatto mengumumkannya atas nama Bangsa
66 tahun sudah Merah Putih berkibar di seluruh penjuru negeri
Ya, 66 sudah kita Merdeka

Aku berjalan
            menembus pedalaman
                        menyusuri pantai
                                    masuk desa
                                                berkeliling kota
kutemui orang-orang
            tua
                        muda
                                    pedagang
                                                sopir
                                                            buruh pabrik
                                                                        mbok jamu
                                                                                    petani
                                                                                                mahasiswa
                                                                                               
dan bertanya: apa rasanya merdeka?
semua menjawab, tapi balik bertanya:
apakah benar kita sudah merdeka?

Bagi mereka, merdeka dengan M besar adalah sejahtera
merdeka adalah pendidikan murah
tak ada lagi yang terlantar
biaya kesehatan yang tidak malah membuat orang tidak sehat

Merdeka bukan hanya untuk Gayus
yang bebas ke mana-mana meski di sel Kelapa Dua
bukan juga milik Nunun pun Nazaruddin
yang bersembunyi dan sulit dicari meski disangka korupsi

Merdeka bukan cuma hak politisi
yang asal bunyi tiap hari di televisi
bukan juga punya penguasa
yang sibuk memoles citra di berbagai media

Merdeka harusnya bukan milik mereka
para mafia yang gerilya di seluruh sendi negara

Hakim Agung yang tak agung
Mahkamah yang terbeli
Pemilu menjadi pilu
belum lagi BLBI, Century, kleptokrasi, burukrasi…

Hari ini
Aku mengingat lagi apa yang mereka kata:
apakah benar kita sudah merdeka?
dan, aku malu jika mengatakan
bahwa negeri ini sudah merdeka


*Bagian dari Pentalogi: Indonesia Kini