Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan

28 Januari 2010

Kutipan Komedi Situasi dari Kondisi Republik

Setahun belakangan ini, begitu ramai pernyataan, aksi maupun sikap tokoh dan lembaga politik—utamanya kasus Bank Century—yang mengemuka dan jadi buah bibir di masyarakat. Berikut catatan kutipannnya yang nampaknya bisa dipakai jadi script sinetron komedi situasi:




SBY: Lanjutkan!


Pansus Century: Makzulkan!


Partai Oposisi: Makzulkan!


JK: Lebih cepat lebih baik!

Amien Rais: Pemakzulan tidak realistis 


Pengamat politik: pemakzulan mimpi di siang bolong


Gayus: Keluar kau!


Gayus: Keluar kau!


Ruhut: Bangsat!


Marsillam: Saudara jangan marah-marah! Saya bukan Robert Tantular


BS: Dari bukti video, anda Robert Tantular


(Hadirlah pula cerita cicak-buaya-godzila)


Susno: semua berawal dari perintah JK


Nasabah century: Pemerintah harusnya menambah baill-out. Bukan Rp6,7 triliun tapi Rp8,1 triliun


Sri Mulyani: saya menguntungkan Republik Indonesia (sambil wirid dengan tasbihnya)


Jk: century dirampok


Boediono: century dirampok dan bank gagal


Jk: Sri Mulyani pernah mengatakan merasa tertipu dengan angka-angka yang dilaporkan Bank Indonesia


Raden Pardede: begini Pak...saya akan jelaskan…


Pansus: coba jelaskan…


Raden Pardede: saya akan jelaskan..


Pansus: saudara jangan menghina DPR


Raden Pardede: begini Pak, saya akan jelaskan Pak...


Pansus: saudara jangan menghina DPR


penonton live show TV: kelamaan, kok nggak berantem-berantem??


Bibit-Chandra: kami dikriminalisasi


Marsillam: Saya tidak diutus presiden, saya tidak mewakili presiden, saya tidak melapor presiden sebelum dan sesudahnya, sampai sekarang pun saya tidak katakan satu katapun

Antasari: ini hanya imajinasi

Penonton sidang: auw...auw...auw...

Penggerak demo: besok akan ada ratusan ribu pendemo

(kenyataannya, demo tidak sebesar yang "dijanjikan")

Pengggerak demo: besok akan ada ribuan pendemo

(kenyataannya, demo tidak laku!)

Facebooker: 1.000.000 dukungan untuk Bibit-Chandra

(kenyataannya, lebih dari sejuta)


Facebooker: bebaskan Prita Mulyasari

(kenyataannya, Prita bisa bebas)


so, kalau Anda facebooker berbahagialah menjadi pelopor demokrasi masa depan, bersuara tanpa kekerasan...


Apa lagi ya...tambahin dong!

11 Januari 2010

Hotel Bintang Lima di LP, Hanya Pengalih Perhatian?

Masyarakat Indonesia sepertinya dikejutkan dengan ‘temuan’ satuan tugas (satgas) pemberantasan mafia hukum yang pada Minggu (10/1) malam melakukan inspeksi mendadak di rumah tahanan wanita kelas II A Pondok Bambu, Jakarta Timur. Beberapa narapidana, meski dalam istilah umum sering disebut dengan Hotel Prodeo, didapati mendapatkan fasilitas mewah layaknya hotel berbintang lima. Beberapa narapidana yang mendapatkan fasilitas mewah itu di antaranya terpidana kasus suap terhadap jaksa Urip Tri Gunawan, Artalita Suryani (Ayin). Artalita mendapat ruangan terpisah dengan tahanan lain dengan fasilitas mewah. Ruangan besar, televisi, kulkas, dan meja kantor.



Selain menemukan perlakuan khusus kepada Ayin, yang dikabarkan dekat dengan para petinggi republik ini, Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum juga menemukan kasus yang sama di blok lain. Aling, terpidana kasus narkotika, bahkan memiliki fasilitas karaoke, televisi, dan ruang lebih besar. Hal yang sama juga terjadi pada tahanan lain, Darmawati, Ines dan Ery.


Terhadap temuan tersebut, gayung pun bersambut. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung meminta temuan satgas atas adanya indikasi perlakuan istimewa terhadap narapidana di rumah tahanan (Rutan) harus segera ditindaklanjuti oleh kementerian terkait. Seperti dikatakan Juru bicara Kepresidenan Julian Pasha. Julian mengatakan dalam waktu dekat Presiden akan mendengarkan laporan langsung dari Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mengenai masalah ini.


Di satu sisi, ’temuan’ ini tentu perlu disambut dengan acungan jempol atas kinerja tim satgas yang baru beberapa hari bekerja. Dan tentunya ditunggu langkah-langkah konkret selanjutnya terkait temuan yang ada. Namun, di sisi lain, dari segi komunikasi, ’temuan’ ini diangap sebagai bukan sebuah temuan. Sehingga, ada semacam pendapat bahwa ini hanyalah ’smog eyes’ kabut mata, pengalih perhatian dari kondisi politik yang ada.


Di akui tidak. Pemerintah SBY saat ini berada dalam tekanan hebat, terutama sejak pengangkatan para menteri baru, yang terkait dengan masalah Bibit-Chandra, Cicak vs Buaya, dan terutama adalah soal CenturyGate. Meski tidak diakui secara terang-terangan, namun secara politik, muara semuanya adalah membuat keadaan pada satu kondisi dimana Presiden nanti pada saatnya di-impeach (dimakzulkan). Kalaupun tidak, minimal tentu ada proses tawar-menawar politik yang ujung-ujungnya adalah pembagian kekuasaan kembali.


Ada beberapa hal yang bisa memperkuat tesis tersebut. Pertama, ’temuan’ ini (saya beri tanda kutip) bisa jadi bukan temuan karena sudah berlangsung begitu lama, sehingga jadi pertanyaan ”kenapa kok ya baru sekarang diungkap?”. Hukum kita masih mengabdi pada kekuasaan dan pemilik modal (uang). Yang trjadi pada Ayin, bukan cuma dia seorang. Kalau ditelusuri dan dicek secara benar, akan begitu banyak penghuni LP yang mendapat fasilitas istimewa. Tentu masih diingat ada seorang mantan pengusaha yang sempat menjalankan usaha peternakan di dalam penjara, mengendalikan bisnis narkoba dari balik jeruji. Fasilitas bisa didapatkan, asal uang disiapkan.


Kedua, fasilitas istimewa dalam hal fasilitas belum seberapa. Ada keistimewaan lain yang didapat ketika uang berbicara, yaitu fasilitas keluar LP. Bukan rahasia umu, banyak Napi bisa leluasa keluar masuk LP, bahkan disebut-sebut ketika di LP Nusa Kambangan sekalipun. Bahkan, LP yang terpencil maupun di dalam kompleks penegak hukum, justru disukai karena pantauan masyarakat menjadi sulit. Sehingga, publik tidak tahu apakah Napi ada di dalam penjara atau justru di luar penjara. Tak ketinggalan, adalah fasilitas remisi dan tahanan luar. Tentu publik masih bertanya, ada seorang yang dihukum belasan tahun kemudian bebas begitu saya dengan potongan remisi yang banyak, dan dianggap sudah menjalani menjalani sepersekian masa hukuman, meski saat argo sebagai tahanan dihitung, orang itu masih menghilang alias buron.


Ketiga, dalam beberapa hari media akan dihiasi berita-berita soal Ayin dan teman-teman sesama Napi yang memiliki fasilitas istimewa. Dalam komunikasi, upaya ini, agenda setting ini, diyakini berhasil untuk mempengaruhi agenda media dan agenda publik. Publik akan terbengong-bengong dengan temuan-temuan yang akan terus-menerus ada sehingga mengesankan bahwa ada keseriusan memberantas mafia hukum, begitu juga dengan media, sehingga kasus yang lain menjadi terlupa. Saat ini merupakan saat yang tepat, sebab dalam waktu 20 hari ke depan, Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 akan memasuki usia kerja 100 hari. Sehingga, sekali dayung, beberapa isu terjawab.


Waktu yang akan menjawab apakah benar isu ini dicuatkan untuk mengalihkan perhatian atau bukan. Jika memang bukan, tentu saja, napi-napi yang mendapat fasilitas harus diproses, begitu juga denga sipir, kepala LP bahkan ke tingkat lebih tinggi lagi. Hal-hal lain selain fasilitas penjara yang seperti hotel bintang lima, seperti disebut sebelumnya, fasilitas ke luar LP, masa tahanan, perlu juga ditindaklanjuti. Bahkan termasuk kasus-kasus yg sudah diputus, dan napi nya sudah di luar penjara dengan alasan sudah memenuhi sepersekian masa hukuman, yang hitung-hitungannya mencurigakan. Jika tidak, itu artinya, temuan satgas ya memang bukan ’temuan’ karena sekadar agenda mengalihkan perhatian publik dan media.

04 Januari 2010

Sejarah dan Perkembangan Periklanan (1)




a. Jaman Kuno:


1. Jaman Mesir dan Yunani kuno telah ada iklan yang menawarkan tempat penginapan


2. Jaman Roma dan Yunani dalam bentuk lukisan dinding untuk menawarkan barang-barang dan anggur


3. Town Crier: adalah orang yang menawarkan barang tetapi juga menginformasikan berita harian


4. Selanjutnya iklan menggunakan surat kabar, flyer (selebaran), leaflet, dll






b. Periklanan di Amerika


1. Advertising (periklanan) di AS berkembang karena awalnya didukung oleh adanya Revolusi Industri, tingkat melek huruf yang meningkat, dan daya beli masyarakat yang meningkat sehingga membutuhkan semakin banyak produk. Sementara para produsen berusaha membuat produk yang dapat memuaskan konsumennya dengan mempersuasi calon konsumen agar tidak beralih pada pesaingnya


2. Featherstone mengatakan era tersebut sebagai “consumer culture” di mana terjadi peningkatan jumlah produk yang ditawarkan untuk memperoleh profit dan menyediakan simbol-simbol status dan kesuksesan. Iklan digunakan untuk menjual prestige seperti halnya produk (image ads)


3. Advertising didefinisikan sebagai bentuk komunikasi yang persuasif, dibeli dan dibiayai oleh pengiklan tetapi juga menjadi sumber pemasukan bagi perusahaan media


4. Perkembangan periklanan tidak terlepas dari peran serta: media representative, pengiklan, dan biro iklan


5. Tokoh-tokoh yang berpengaruh:


 Volney B. Palmer: yang pertama menggunakan istilah advertising agency, menciptakan sistem komisi, membeli ruang iklan dari surat kabar, lalu menjualnya kepada klien (pengiklan), membuat iklannya dan mengirimkannya kepada penerbit


 George R. Rowelll: sebagai broker space iklan yang dijual kepada pengiklan


 Francis Wayland Ayer: memberi kontribusi tentang peran agensi yang lebih membantu pengiklan dibanding media


6. Iklan tidak hanya tentang produk tetapi juga ide/gagasan seperti pada waktu PD I digunakan untuk mempengaruhi opini publik


7. Media lain yang digunakan untuk beriklan adalah radio, TV, majalah, TV kabel dan internet


8. Ada 2 trend dalam beriklan, yaitu:


 Hard Sell: bila iklan tersebut lebih mengedepankan pesan-pesan rasional, tentang alasan pembelian produk, seperti kegunaan, harga, dll


 Soft sell: bila iklan lebih menonjolkan aspek emosional dalam pesan-pesannya seperti dengan menggunakan tema-tema entertainment. Era ini disebut “the era of creativity”


9. Integrated Marketing Communication (IMC) adalah penerapan semua alat-alat komunikasi pemasaran secara terpadu yang dikirimkan kepada audiens sasaran dengan konsisten, pesan-pesan persuasif yang disampaikan mempromosikan satu tujuan perusahaan. IMC merupakan kombinasi dari marketing, PR, sales promotions dan direct marketing. Biro iklan mengalami perubahan lingkup kerja karena tidak hanya menangani iklan tetapi aliansi dari PR, direct marketing, market research, sales promotion, internet ads dan electronic commerce.






Teknologi dalam Periklanan


1. Teknologi dalam iklan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi media mass


2. On-line ads yang ada di internet memungkinkan iklan dapat lebih interaktif dibanding dengan iklan melalui media konvensional (Surat kabar, majalah, TV, Radio, dll)


3. Viral marketing adalah salah satu bentuk perdagangan elektronik di mana pengguna internet dapat menginformasikan (mengiklankan) produk pada pengguna lainnya yang dikenal


4. Iklan melalui internet dikritik karena minimnya orang yang secara khusus mengklik iklan yang dipasang pada banner di web site sehingga pengiklan tidak dapat mengukur seberapa efektif beriklan lewat internet


5. Teknologi informasi memungkinkan pengiklan mempunyai data base dari konsumennya sehingga mereka dapat menyusun pesan secara personal kepada konsumennya.


6. Cookies adalah file kecil yang tersimpan dalam komputer pengguna internet berisi data tentang apa yang telah dilakukannya selama berselancar di internet


7. Munculnya e-commerce, yaitu transaki perdagangan dan pembelian melalui internet, sehingga pendekatan iklan tradisional tidak berguna. Tetapi konsumen seringkali masih mengunjungi situs justru untuk mendapatkan informasi tentang suatu produk sebelum mereka melakukan pembelian secara nyata di toko pengecer. Sehingga pendekatan iklan tradisional masih bisa digunakan untuk mengiklan produk melalui internet


8. Semakin banyak media batu untuk beriklan seperti internet tanpa kabel, telepon internet, TV interaktif, personal video recorder, outdoor sign dengan teknologi digital, talking billboard, kiosk, dll






Genres dalam Periklanan


1. Iklan harus mengkomunikasikan informasi-informasi penting tentang produk dan juga dituntut untuk secara kreatif dalam menyampaikannya agar dapat memotong perhatian dari iklan pesaing. Semua pesannya harus mengandung dimensi informasi dan emosional, karena iklan harus dapat memperolah perhatian dari audiens yang biasanya tidak tertarik pada pesan-pesan yang disampaikan.


2. Kontinuitas tema. Kampanye iklan yang efketif merupakan refleksi pesan, sifat-sifat dan format yang konsisten. Ada tema-tema yang secara kontinyu dijadikan pedoman untuk dikomunikasika melalui berbagai cara dan media


3. Iklan seringkali merupakan refleksi dari kondisi sosial dan norma-norma budaya karena iklan menggunakan budaya populer (pop culture) untuk dapat berkomunikadi secara akrab dengan audiensnya


4. Relationship marketing terjadi bila pengiklan dan konsumen dapat berkomunikasi one-to-one melalui media yang personal seperti internet, direct mail atau telepone untuk memperkuat loyalitas konsumen terhadap suatau merek tertentu.


5. Direct Marketing adalah salah satu bentuk komunikasi pemasaran yang bertujuan menjual produk secara cepat, tanpa harus mengunjungi toko pengecer. Pesan disampaikan secara individual kepada konsumen berdasarkan database dan efektivitasnya dapat diukur sehingga dapat ditentukan tindakan selanjutnya. Beberapa berbentuk seperti: record club, book and magazine club, catalog sales, telemarketing, infomercial (TV), dll.


6. Ada beberapa cara iklan dalam mempengaruhi tindakan dari sasaran pasar:


a. Memberi informasi baru, misalnya produk baru, inovasi produk, kontes, dll


b. Menguatkan loyalitas terhadap merek dengan pembelian ulang


c. Mengubah predisposisinya


7. Apapun pendekatan komunikasi yang digunakan, iklan harus dapat mengetahui motif pembelian dari konsumen sehingga dapat menyusun pesan-pesan yang dapat membangkitkan motif tersebut


a. Diperlukan pemahaman terhadap segmentasi audiens. Misalnya dengan menggolongkan berdasarkan:


b. Seberapa banyak informasi digunakan (heavy-medium-light user).


c. Demografisnya, atas dasar umur, gender, etnisitas, pendapatan


d. Gaya hidup, atas dasar sikap, hobi, pendapat (opini)


e. Geodemografis, penggabungan aspek demografis dengan geografis


8. Iklan yang disampaikan perlu selalu dievalusi untuk mengetahui seberapa efektif iklan kita. Kemungkinan yang bisa terjadi adalah:


a. Tidak tersedia media untuk segmen audiens yang dituju


b. Tidak semua audiens diterpa oleh media yang digunakan


c. Tidak semua audiens yang diterpa oleh media, melihat, mengingat atau terpengaruh oleh iklannya

28 November 2009

Isu-Isu Mengenai Kehumasan (Public Relation)

Menurut Edward L. Bernays (Bapak Public Relation modern) ada 3 elemen utama dalam PR, yaitu:
- Informing people (memberitahukan orang)
- Persuading people (membujuk orang)
- Integrating people with people (memadukan orang dengan orang).

Tentu saja metode dan pemahaman terhadap PR selalu berubah sesuai dengan perubahan dalam masyarakat. Pada masyarakat tradisional sebenarnya PR sudah dipraktekkan meskipun digunakan dengan menakut-nakuti atau intimidasi. PR juga digunakan untuk mendapatkan impresi, image yang baik dari publik dengan menggunakan tulisan maupun kata-kata.

Praktek Public Relations
Beberapa praktek PR di beberapa negara:
- Roma kuno, vox populi, vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan)
- Julius Caesar, menggunakan acta diurna untuk melakukan propaganda untuk mencetak opini publik dalam mendapatkan dukungan perang
- Digunakan untuk menyebarluaskan ajaran Kristiani oleh Paus dengan kata-kata dan surat
- Istilah propaganda pertama kali digunakan oleh Gereja Katolik untuk menyebarluaskan agama Kitab Suci (Bible) yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan berbagai bentuk (buku, media mass, surat kabar,dll) untuk membentuk opini publik
- Bureau d’Esprit adalah departemen yang ada dalam kementrian Perancis yang bertugas untuk membantu editorial dan mengirimkan agen-agen ke seluruh bagian Perancis untuk memenangkan dukungan publik dalam Revolusi Perancis
- Dalam pemberontakan Amerika dalam Revolusi Amerika digunakan ahli-ahli PR yang menggunakan pidato, surat kabar, pertemuan-pertemuan, komite-komite, pamlet, korespondensi untuk memenangkan opini publik
- Dalam era industri di Amerika, PR banyak terkait dengan perkara buruh dan majikan publisitas untuk menarik konsumen
- Biro pers digunakan perusahaan-perusahaan di Amerika untuk menyebarluaskan berita-berita yang favourable tentang mereka dan yang unfavourable tentang kompetitornya
- Perusahaan KA Amerika adalah organisasi pertama yang memanfaatkan PR secara profesional.


PR di Era Millenium Baru
Isu-isu yang berkembang dalam era milenium baru adalah:
- Persamaan ras dan gender
- Lingkungan (polusi, penggundulan hutan, kerusakan habitat, dll)
- Peningkatan kualitas hidup
Maka PR harus menggunakan isu-isu tersebut sebagai bagian dari komunikasi kepada publiknya. Profesi PR semakin global, lintas negara, semakin makmur dan semakin banyak wanita yang berprofesi sebagai PR.

Etika Public Relations
- Barnum mengkritik bahwa PR seringkali memanipulasi kepentingan publik untuk keuntungan pribadi, menggunakan pers, special event dan aktivitas lainnya untuk menciptakan citra yang menjadi topeng untuk menutupi tujuan komersial
- Marvin Olasky, mengkritik pada level makro. PR pada abad 19 dan 20 lebih banyak bekerja untuk memenangkan persaingan ekonomi. Sedangkan pada level mikro, terkait dengan media, bahwa apa yang dilakukan oleh PR setiap hari dipandang tidak karuan, dibuat-buat , tidak akurat, tidak benar dan bahkan membahayakan kebebasan dan kemerdekaan.

Kritik tersebut tidak semua benar, tetapi memang ada praktek PR yang melakukan penipuan. Karena itu, banyak organisasi PR atau pendidikan PR di kampus-kampus selalu membekali pesertanya dengan rambu-rambu etika.

Teknologi dalam Public Relations
Teknologi digunakan dalam PR untuk membantu mendistribusika ide dan aktivitas PR, seperti:
- TV
- Video-conference
- Satelite Media Tours
- Video News Release
- B-Roll
- Webcasting
- Personal Computer
- Internet

Di samping hardware yang digunakan dalam membantu aktivitas PR, beberapa software juga dikembangkan seperti data base yang digunakan untuk melakukan identifikasi terhadap sasaran PR sekaligus mendistribusikan pesan-pesan kepada mereka. Penggunaan email juga digunakan untuk mendistribusikan pesan dengan cepat dari institusi maupun publik.

Genre dalam Public Relations
a. Definisi PR menurut pandangan industri:
- Public Relations adalah fungsi manajemen yang mengidentifikasi, membentuk dan memelihara hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi dengan berbagai publiknya yang kepadanya organisasi menggantungkan kegagalan atau keberhasilannya (Cutlip, Center, dan Broom)
- Public Relations membantu masyarakat kita yang kompleks dan plural untuk mencapai keputusan dan berfungsi lebih efektif dengan membentuk pemahaman yang saling menguntungkan antara kelompok-kelompok dengan institusi. PR melayani swasta dan publik agar tercipta kebijakan yang harmonis

b. Tugas-Tugas PR
- Memberi saran dan konsultasi kepada organisasi terhadap masalah komunikasi yang mempengaruhi publiknya
- Menyediakan sistem peringatan awal untuk mengatasi isu-isu yang terkait dengan keberhasilan organisasi
- Menyediakan dukungan teknis pada fungsi-fungsi manajemen lainnya dengan penekanan pada publisitas, promosi dan hubungan media
- Bertindak sebgai “penjaga gerbang” antara perusahaan atau organisai dan publiknya yang paling tampak dengan mewakili pers, pembuat UU dan pegawai pemerintahan

c. Tugas PR dalam Media Relations
- Memutuskan strategi, merencanakan dan mengkoordinasikan media relations dan publisitas
- Menyiapkan dan menyebarluaskan news release, press kit dan press alerts
- Menelpon, menulis, mem-fax, email para editor dan wartawan
- Bekerjasama dengan jasa PR yang diperlukan untuk membantu mereka dalam aktivitas-aktivitas PR
- Mengevaluasi hasil-hasil Media Relations dan publisitas

d. Kategori PR:
- Publisitas (media Relations)
- Promosi dan penjualan
- Communications Relations
- Government Relations
- Public Information
- Special Event
- Employee Relations
- Issue Management
- Lobbying

e. Publik dalam PR
Publik adalah audiens yang dengan siapa PR berkomunikasi sebagai bagian dari pekerjaan rutinnya. Dalam mencapai publiknya PR sering menggabungkan teknik dan alat-alat PR seperti marketing, advertising dan Human Resources. Publiknya adalah:
-Customers
- Employee
- Shareholders
- Donor
- Pers, dll

Industri Public Relations

a. Public Relations akan menguntungkan, karena:
- Meningkatkan kredibilitas dan akuntabilitas
- Menguatkan identitas publik
- Liputan pers yang lebih favourable
- Memperbesar sensitivitas kebutuhan publik
- Meningkatkan moral karyawan
- Memperbesar pangsa pasar
- Meningkatkan penjualan
- Manajemen internal yang baik


b. Elemen-elemen Kesuksesan PR
- Praktek PR berdasarkan riset dan evaluasi
- PR adalah tindakan yang terencana, tidak asal-asalan
- PR memberikan dukungan terhadap tujuan publik
- Alat-alat dan teknik PR untuk membawa dan mendapatkan informasi
- PR perlu diperjelas keterkaitannya dengan advertising dan marketing, riset pendapat, media cetak dan elektronik


c. Profil Industri PR
- Pengertian PR digunakan secara berbeda, seperti:
o Perusahaan: public affairs, corporate communication, Corporate Relations
o Layanan Publik: Consumer Affairs, Communication Relations
o LSM dan pemerintah: Public Information, Marketing Communications
- Biasanya mereka dipecah-pecah berdasarkan tugasnya yang spesifik sperti investor relations, Financial Relations, Media Relations.
- Sekarang semakin banyak perusahaan yang memiliki departemen PR juga sekolah, rumah sakit dan lembaga sosial
- Ada ribuan perusahaan PR independen dengan beberapa atau ribuan pegawai dengan gaji PR juga tinggi, rata-rata $53,000. Di samping itu mereka ada yang memperoleh bonus, saham atau paket kompensasi lainnya
- Kerja praktisi PR diawali dari wilayah publisitas dan media relations, menulis dan mengedit news release, reporter, editor dan memunculkan liputan pers
- Praktisi musiman bekerja berdasarkan rencana dan manajemen seperti pembicaram pembuat proposal atau presenstasi.



Isu-Isu tentang Public Relations

- Perusahaan besar yang mampu membayar PR profesional mempunyai kekuatan yang besar untuk mempengaruhi opini publik melalui media yang seringkali merupakan bagian dari korporasi perusahaan itu sendiri. Sehingga sering terjadi ketegangan antara kepentingan publik dan swasta seperti masalah: korupsi, polusi lingkungan, mempengaruhi kebijakan yang tidak pantas, atau pengendalian perdagangan, dan juga kritik sosial
- Tenaga profesional PR yang mempunyai kemampuan dinilai masih kurang seperti kemampuan di bidang jurnalistik, teknologi komunikasi,bisnis dan manajemen. Untuk itu seringkali organisasi PR mengadakan pelatihan, seminar, konferensi maupun program fellowship dan akreditasi untuk para praktisi PR
- Riset dan evaluasi untuk menilai dampak dan efektivitas usaha-usaha yang dilakukan oleh PR masih belum memuaskan. Padahal riset adalah dasar dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan program PR. Hal itu terkait dengan masalah besarnya biaya yang diperlukan, sementara masih banyak top management dari pihak klien yang belum terbiasa dengan riset sebgai bagian dalam penentuan anggaran kegiatan PR.

- Teknik riset dalam PR antara lain:
o Environmental monitoring : untuk mengetahui iklim perusahaan
o Audit: untuk mengetahui pemahaman organisasi dengan publiknya
o Readability studies: untuk menganalisis efektivitas publikasi

25 Agustus 2009

Komunikasi dalam Konflik

Frost dan Wilmot (1978) mendefinisikan konflik sebagai perjuangan—perbedaan di antara pihak-pihak yang dinyatakan, dikenali dan dialami—yang diekspresikan antara sekurang-kurangnya dua pihak yang saling bergantung, yang mempersepsi tujuan-tujuan yang tidak sepadan, imbalan yang langka dan gangguan dari pihak lain dalam mencapai tujuan mereka. Bila anggota-anggota suatu kelompok mempunyai tujuan bersama, kecil kemungkinan konflik akan berkembang.

Konflik baru terjadi ketika atau setelah perbedaan-perbedaan tersebut dikomunikasikan. Konflik sendiri bisa dinyatakan dengan cara-cara berbeda, seperti gerakan nonverbal yang halus, pertengkaran habis-habisan, dari sarkasme yang halus, hingga kecaman verbal terbuka.

Charles Watkins (1974) menawarkan analisis tentang kondisi-kondisi esensial dari konflik, yang membentuk sebuah definisi operasional. Di antaranya: konflik muncul akibat adanya sasaran yang sama-sama dikehendaki tapi sama-sama tidak bisa dicapai, konflik menuntut setidaknya dua pihak yang mampu menjatuhkan sanksi terhadap satu sama lain serta konflik akan berakhir hanya bila setiap pihak merasa puas telah ‘menang’ atau ‘kalah’. Keuntungan definisi Watkins ini adalah hal ini meliputi kemungkinan komunikasi.

Konflik Pribadi dan Organisasi
Gaya konflik merupakan kombinasi dari banyak kepentingan untuk mencapai tujuan. Kepentingan-kepentingan dapat digambarkan dengan dua sumbu yang berjalan, dari kepentingan tingkat rendah menuju kepentingan tingkat tinggi. Sel-sel yang dihasilkan dengan campuran kepentingan untuk mencapai tujuan tertentu, menggambarkan gaya yang dimiliki seseorang dalam menangani konflik.

Menurut Hall (1969), Blake dan Mouton (1980) serta Kilmann dan Thomas (1975), dalam konflik pribadi terlibat beberapa pihak yang disebutnya sebagai pesaing, kolaborator, pendamai, akomodator dan penghindar. Pesaing adalah mereka yang mengejar kepentingan sendiri dengan cara agak kejam dan umumnya mengorbankan anggota-anggota kelompok lain. Kolaborator atau pencegah masalah adalah mereka yang berusaha menciptakan situasi yang memungkinkan tujuan semua kelompok dapat tercapai, dengan mencari solusi masalah.

Kemudian pendamai adalah mereka yang memiliki asumsi bahwa setiap orang yang terlibat dalam suatu pertentangan mampu menerima kekalahan dan berusaha membantu menemukan suatu posisi yang pas. Akomodator adalah mereka yang kurang tegas, namun cukup kooperatif yang mengabaikan kepentingannya sendiri demi kepentingan orang lain. Sedang penghindar atau penurut impersonal adalah mereka yang cenderung memang konflik tidak produktif dan sedikit menghukum, sehingga mereka berusaha menjauhi situasi yang tidak nyaman dengan menolak untuk terlibat.

Konflik antarkelompok dinyatakan dengan cara yang sama seperti pada pertentangan antarpribadi. Menurut Coffey dan kawan-kawan (1975) Ada tujuh tahapan yang menandai siklus konflik antar kelompok. Pertama, keraguan dan kecurigaan mulai mengemuka dan iklim mulai menurun. Kedua, persepsi atas kelompok luar terkena distorsi atau terpolarisasi dengan komentar verbal yang memisahkan kelompok yang “baik” dari kelompok yang “buruk”.

Ketiga, keterpaduan atau perasaan yang terkait seperti keramahan, ketertarikan, keakraban dan kepentingan dalam tiap kelompok meningkat. Keempat, kepatuhan pada norma kelompok meningkat dalam setiap kelompok. Kelima, kelompok mempersiapkan diri mereka menghadapi kepemimpinan dan pengarahan yang lebih otoriter. Keenam, prilaku yang bermusuhan, kurang komunikatif, dan tanda-tanda lain pada hubungan antarkelompok menjadi tampak. Dan ketujuh, pemisahan yang lengkap diharapkan oleh kedua pihak dan setiap bentuk usaha kerjasama yang positif menjadi terhenti.

Dalam organisasi, kelompok melakukan kontak dengan dan interaksi dengan kelompok lain dalam beberapa cara. Ketika terjadi interaksi kelompok, konflik mungkin tidak dapat dihindari. Menurut Nielsen (1972), konflik bisa muncul karena perbedaan karakteristik personal, perbedaan interpretasi, perbedaan persepsi dan pengalaman serta kompetisi untuk mendapatkan sumber-sumber organisasi yang langka.

Haiman (1951) membagi konflik organisasi dalam dua bagian: intrinsik dan Ekstrinsik. Konflik intrinsic merupakan konflik yang berhubungan dengan pemaknaan, bukti, alasan dan nilai. Sedang konflik ekstrinsik berkait dengan kebutuhan individu, perasaan, maksud dan pembelaan diri.

02 Juli 2009

Final Debat Capres: Debat Terjadi, Tapi Tidak Substantif

Babak final (jadi seperti pertandingan olah raga) Debat Capres digelar Kamis malam ini, 2 Juli 2009. Ini merupakan debat terakhir dari serangkaian Debat Capres dan Cawapres yang digelar dalam putaran pertama Pemilu kali ini. Sebagaimana diketahui, calon presiden harus menjalani tiga kali debat, dan calon wakil presiden harus menjalani dua kali debat.

Debat kali dimoderatori Prof. Dr. Pratikno, Dekan Fisipol UGM. Adapun topik yang diangkat adalah NKRI, Demokrasi dan Otonomi Daerah. Moderator, dibanding moderator Capres sebelumnya Aviliani, dirasa kurang memainkan peran dengan maksimal, seperti terlihat moderator harus bolak-balik melihat catatan pertanyaan dan run down acara. Dalam debat cawapres sebelumnya, yang dipandu Dr. Dr. Fahmi Idris, kelemahan juga ada di moderator yang masih grogi membawa acara demikian penting.

Sebagaimana sebutan ”Final” selain debat ini merupakan debat terakhir, debat dan terjadinya perbedaan pendapat antarcapres terjadi. Bahkan saling”tonjok” pun terjadi, memang bukan secara fisik tapi secara omongan. Yang diserang tentu saja presiden incumbent, dan uniknya yang menyerang adalah wakil presiden incumbent. Hanya saja, dari ”tonjok-tonkokan” yang dilontarkan, tak ada hal yang substansial menyangkut topik yang diangkat. Sebab, JK mempersoalkan iklan ”Satu Putaran” yang ramai menghiasai layar kaca, serta isu rasialis terkait dengan ucapan seorang anggota tim kampanye kandidat presiden lainnya yang mengatakan suku tertentu, yang sebenarnya juga merupakan suku anggota tim kampanye tersebut, belum waktunya menjadi presiden. Disebut tidak substantif karena soal ”satu putaran” tidak ada urusannya dengan topik yang diangkat dan pernyataan yang disebut rasialis bisa diselesaikan secara adat, karena antara yang diomongkan dengan yang dibicarakan berasal dari suku yang sama. Sama saja, ornag Indonesia berpendapat soal Indonesia, yang tentunya juga akan bisa berpendapat positif, dan tak dipungkiri juga mungkin akan berpendapat negatif. Kasus Indonesia yang berhasrat jadi tuan rumah Piala Dunia Sepakbola 2022 misalnya. Tentu ada pro dan kontra.

Dalam debat kali ini, JK memang terlihat begitu agresif. Ya meskipun incumbent capres, JK tetap penantang menjadi presiden, dibanding SBY yang masih sebagai presiden, sehingga SBY terlihat lebih banyak bertahan. Secara kasat mata, memang terjadi perubahan mimik dan gesture (gerak-gerik) SBY, ketika JK mengungkapkan soal iklan dan pernyataan tim SBY yang dinilai rasialis.

Yang unik adalah Mega. Mega seperti terpisahdi tengah perdebatan antara SBY dan JK. Dalam menjawab, Mega sayang sekali kurang memperhatikan waktu sehingga ketika waktu jawab sudah habis, Mega belum selesai bicara, yang menyebabkan moderator berulang kali meminta maaf untuk menegaskan waktu yang diberikan sudah habis.

Gaya SBY dalam menjawab. Tenang dan dalam. Meski memang, emosional SBY terusik dengan ”serangan” JK. Dan JK, seperti berada di atas angin, mengeluarkan ”serangan-serangan”. Meski untuk sebagian kalangan ”serangan-serangan” dirasa perlu dan menarik, namun perlu diingat, mengingat SBY dan JK sampai saat ini masih merupakan ”Dwi-Tunggal”, ”serangan” yang dilakukan bisa saja dinilai tidak elok karena toh sebenarnya antara SBY-JK adalah ibarat dua sisi mata uang. Hanya sangat disayangkan, SBY seharusnya juga bisa menunjukkan kemampuannya menyerang, karena tentu saja lawan-lawannya juga bukan tidak punya kekurangan.

Yang menarik adalah sebelum acara berakhir, bahkan sebenarnya sudah berakhir namun masih ada waktu tersisa. Pertanyaan yang dilontarkan adalah apa yang akan dilakukan Capres jika tidak terpilih jadi capres? Jawaban-jawaban cukup membuat suasana menjadi segar. Namun itu pelru dibuktikan saat hasil Pilpres 8 Juli mendatang diumumkan. Sebab, dari gelagatnya, apa yang terjadi di Jawa Timur, permintaan adanya pilpres ulang, tidak menerima hasil pilpres, bisa saja terjadi. Indikasi jelas, masalah DPT akan terus menjadi beban dan penyulut capres untuk tidak menerima hasil Pilpres. Mudah-mudahan saja itu tidak terjadi, dan semua capres mengucapkan dan merayakan kemenangan capres terpilih, serta mendukungnya di kemudian hari, demi Indonesia yang lebih maju, mandiri, sehat dan cerdas.

25 Juni 2009

Debat Capres Putaran Kedua

*JK Berubah, SBY Tetap Tenang, Mega Harus Berubah

Debat Calon Presiden untuk Pemilu 8 Juli mendatang kembali digelar. Dibanding Debat Capres yang pertama, Debat Capres kali ini terasa lebih hidup. Mungkin didukung oleh moderator Aviliani yang secara lugas dan tanpa beban melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada para kandidat, serta mungkin para kandidat sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan debat, dan tentunya termasuk kebebasan yang diberikan jika para kandidat ingin berjalan-jalan di panggung (tidak diam di tempat saja) saat menjawab pertanyaan.

Yang cukup mencolok berubah adalah JK dimana JK kembali menjadi dirinya sendiri. Setelah dalam debat pertama yang nampaknya JK berada di bawah bayang-bayang SBY, yang secara psikologis masih bermitra sebagai Wakil Presiden, dengan batik panjang yang dikenakannya, JK berubah menjadi lebih percaya diri dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan tangkas.


Sementara itu, SBY tetap tenang seperti biasa, menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan hati-hati. Namun begitu, ketika ada sentilan-sentilan dari kandidat lain, SBY juga tidak kalah sigap membalas sentilan-sentilan, sehingga membuat ebat menjadi lebih hidup. Namun memang, saling sentil yang terjadi belum mengarah pada posisi menjelek-jelekan atau bahkan saling menjatuhkan.

Yang nampaknya tidak berubah adalah Megawati. Mega mungkin nampaknya perlu lebih bersemangat dalam menjawab pertanyaan, konsisten dan lebih melihat ke depan. Sebab, dalam beberapa kali menjawab, Mega selalu kembali ke belakang (flash back) tentang apa yang sudah dilakukannya dulu sewaktu menjadi Presiden. Tanpa cara pandang yang lebih luas, keluar dari kungkungan apa yang dilakukan pada masa lalu (terlebih apresiasi prestasi terhadap Mega tidak begitu baik, terbukti Mega kalah dalam Pipres 2004), membuat Mega yang dulu akan sama dengan Mega sekarang, yang muaranya akan kalah lagi dalam Pilpres mendatang. Memang Mega sempat mengemukakan bahwa JK pernah menjadi ”pembantunya” (baca: Menko Kesra-nya), namun arah pembicaraanya ke mana tidak secara jelas disampaikan.

Secara keseluruhan, Debat Capres kali ini lebih baik, namun memang tetap harus dicoba untuk menggunakan sistem panelis, sehingga proses elaborasi dan variasi pertanyaan juga akan lebih berwarna. Yang juga belum berubah adalah debat yang sering terpotong oleh iklan-iklan. Sehingga yang terjadi seperti parade iklan yang diselingi debat. Iklan sesungguhnya bisa disampaikan di saat pembuka dan penutup saja.

23 Juni 2009

Catatan Kecil Debat Cawapres

Setelah beberapa hari lalu digelar Debat Capres untuk Pemilihan Presiden Putaran I 8 Juli mendatang, malam ini giliran para pendamping, calon wakil presiden, yang dipertemukan dalam Debat Cawapres. Hadir tiga kandidat cawapres : Prabowo Subianto, Boediono dan Wiranto. Acara dimoderatori oleh Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta Komaruddin Hidayat. Entah bagaimana, Komaruddin sebelumnya juga adalah Rektor Universitas Paramadina, sama seperti moderator Debat Capres yang lalu, Anis Baswedan.

Debat ini cukup menarik, mengingat selamat ini Cawapres selalu digandengkan dengan Capres, atau diistilahkan dengan satu paket, sehingga jarang cawapres diuji kemampuan dalam menjawab masalah-masalah bangsa, kemampuan berbicara, dan segala macam kemampuan lainnya, secara sendiri.

Terlepas apakah Debat Cawapres ini akan mempengaruhi pilihan rakyat dalam Pilpres nanti atau tidak, mengingat figur Capres yang tentu akan lebih kuat, ada beberapa catatan yang bisa diambil dari komunikasi politik yang disampaikan maupun terlihat dari para kandidat Cawapres:


1. Penampilan. Penampilan ketiga kandidat cawapres hampir senada, dengan peci hitam. Entah, apakah memang untuk mencerminkan citra seorang muslim atau seperti apa, sesungguhnya yang perlu diingat adalah jika sebagai aksesoris, tidak semua orang cocok dan pas menggunakan peci. Prabowo dan Boediono memakai batik, sementara Wiranto memakai baju kemeja panjang. Catatan yang menarik, batik yang dipakai Prabowo sudah terlalu sering dipakai sehingga hal itu bisa diterjemahkan bahwa Prabowo ingin menunjukkan continuity (ini biasa dilakukan agar rakyat/publik selalu ingat dirinya dalam ”bentuk” yang sama di berbagai forum, atau Prabowo tidak punya corak batik lainnya, tentu hanya Prabowo yang bisa menjawab. Jika di Amerika Serikat Clinton sebelum jadi Presiden dipermak agar tampak lebih tua dengan mengecat rambutnya jadi putih, para cawapres nampaknya perlu mempermak dirinya agar tampak lebih segar dan muda, sebab betapapun mayoritas pemilih Pemilu tetaplah orang-orang/generasi muda.

2. Secara materi, pertanyaan dalam topik ”Membangun Jati Diri Bangsa” merupakan topik yang terbuka sehingga tiap Cawapres bisa menerjemahkan menurut pengalaman masing-masing. Sehingga, beda saat debat Capres, walalupun Boediono sebagai orang pemerintahan, tidak langsung itu berarti Boediono diuntungkan, apalagi Prabowo maupun Wiranto merupakan orang dengan didikan militer kental, sehingga topik ini hanya merupakan pengejawantahan sikap dan pengalaman yang didapat selama ini, bahkan bisa jadi memeprtegas iklan-iklan kampanye mereka, seperti iklan Prabowo yang mengusung masalah utang, kemiskinan, kemandirian bangsa bahkan menjadi ”Macan Asia”.

3. Isi dan Cara Menjawab Pertanyaan. Dari cara menjawab, Wiranto terkesan mengusai panggung dan lebih santai, bahkan diselingi dengan menyanyi. Boediono secara makro mengetahui persoalan yang diajukan, namun memang terlihat beberapa hal berada di luar kemampuannya menjawab, sehingga yang terjawab adalah hal-hal yang normatif saja. Pembawaan Boediono yang begitu tenang dan kalem, memang tidak bisa diharapkan Boediono akan bicara meledak-ledak. Namun, jawaban Boediono yang terlalu berhati-hati juga sangat kentara seklai, sehingga terasa tidak lepas. Mungkin jika topiknya soal ekonomi Boediono akan bicara hal-hal yang lebih dalam dan strategis, daripada seperti saat ini yang hanya kulit-kulit luar-nya saja. Prabowo tampil dengan semangat, namun nampaknya kurang “galak” dan ”menggebu-gebu” seperti yang disuarakannya dalam iklan-iklan kampanye-nya.

4. Konsistensi Program. Semua kandidat sangat konsisten menonjolkan dan mengkomunikasikan pesan/motto kampanyenya dalam Debat Cawapres ini. Namun mungkin yang terjadi, agak sulit juga menghubungkan isu-isu yang diharus ditanggapi Cawapres dengan motto kampanye nya, kecuali saat prolog dan epilog saja.

Adapun secara umum, ada beberapa catatan mengenai debat Cawapres ini:

1. Posisi moderator agak sedikit tidak sentral, berbeda saat Debat Cpares sebelumnya, sehingga bintangnya tetap adalah para kandidat Cawapres. Namun begitu, tetap perlu dipertimbangkan bahwa baiknya menggunakan sistem panelis, sehingga nilai ke-”bintang”-an capres/cawapres tetap bersinar, sebab perhatian publik akan ke capres bukan moderator tunggal karena sistem panelis.

2. Acara Debat Cawapres ini terasa hilang ruh-nya saat harus terpotong dengan iklan-iklan, sehingga yang terjadi seperti parade iklan yang diselingi Debat Cawapres. Baiknya, iklan disajikan di awal dan akhir debat saja, sementara acaranya Debat nya sendiri harus lah utuh sebagai satu kesatuan, sebagaimana debat sesungguhnya yang terjadi bisa off air. Ini cukup serius.

3. Meski hampir sama dengan saat Debat Capres, debat yang sesungguhnya belum terjadi, meski ini yang dikatakan tim kampanye para Capres/Cawapres sebagai debat ala Timur. Perbedaan pendapat sudah mulai dimunculkan, meski itu kurang tajam. Agar tajam, sesungguhnya moderator bisa masuk untuk lebih mendalam pendapat dan memperdebatkannya dengan pendapat kandidat lainnya. Yang justru ramai adalah tayangan seperti di TVOne, dimana terjadi perdebatan di antara Tim Kampanye pasangan Capres/Cawapres, plus dengan para pengamat politik—yang nampaknya juga “fans” bahkan nampak sekali jadi “pembela” pasangan Capres/Cawapres. Untuk kasus ini, saya iseng-iseng bertanya ke putri saya, suka yang mana acara debatnya, eh benar, dia pilih perdebatan yang terjadi antara Tim Kampanye pasangan Capres/Cawapres, plus dengan para pengamat politik. “Lebih hidup dan tidak bikin boring,” katanya hehe anak kecil saja tahu ya... (herusutadi@hotmail.com)

18 Juni 2009

Komunikasi Politik dan Catatan Kritis Debat Calon Presiden

Malam ini (18/62009), digelar acara Debat Capres untuk Pemilihan Presiden Putaran I 8 Juli mendatang. Dalam acara yang disiarkan secara langsung beberapa stasiun televisi, hadir kandidat presiden: Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Debab Capres dimoderatori oleh Anis Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, dengan pembawa acara adalah Helmi Yahya.

Debat Capres ini tentu amat sangat berpengaruh terhadap publik dalam menentukan pilihan pada Pilpres mendatang. Dan tentunya, dapat dianalisis secara komunikasi politik. Selain analisis komunikasi politik ketiganya, ada beberapa catatan kritis mengenai debat ini.

Analisis Komunikasi Politik
Debat capres merupakan bagian dari pemasaran politik, sehingga momentum ini perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menggaet pembeli (baca: pemilih). Satu hal terpenting dalam pemasaran politik yang dapat dipakai politisi untuk mengendalikan opini publik adalah citra mengenai dirinya. Dalam era televisi dimana kesempatan menyampaikan pendapat dalam hitungan detik, masyarakat menilai politisi dalam waktu yang singkat sehingga kesan yang tertinggal dalam benak pemirsa lebih penting daripada pesan.

Citra merk untuk sebuah produk mewakili semua persepsi tentang merk dan dibentuk berdasar informasi yang dimiliki konsumen tentang merk tersebut termasuk juga pengalaman pribadi yang berkait dengan merk tersebut. Citra dari merk juga diasosiasikan dengan perusahaan penjualnya. Perubahan karakteristik fisik dari merk dapat mengubah citra umum tentang produk.

Sama dengan citra merk, citra politik tidak dapat dipisahkan dari obyek politik yang mempengaruhi perasaan orang dan sikap tentang politisi. Dalam politik, citra diciptakan melalui impresi visual yang dikomunikasikan lewat tampilan fisik politisi, kemunculan di media, pengalaman serta rekornya sebagai pemimpin politik yang semua informasi tersebut terintegrasikan ke dalam pemikiran rakyat. Citra dari kandidat juga dipengaruhi oleh seberapa besar dukungan rakyat dalam negara kepadanya.

Agar sukses dalam memasarkan produk atau politisi, citra yang jelas harus disampaikan dalam pesan tunggal yang menggambarkan produk atau sifat utama dari politisi. Pesan juga harus disampaikan secara berbeda sehingga tidak membingungkan dengan pesan yang sama dari kompetitor lain. Agar efektif, citra harus dikomunikasikan secara konsisten pada setiap pesan.

Dari Debat Capres ini, beberapa analisis yang dapat saya kemukakan:
1. Secara materi, pertanyaan dalam topik ”Tata Pemerintahan dan Penegakan Supremasi Hukum” tentu incumbent, yaitu SBY dan JK cukup diuntungkan mengingat keduanya paham dan sangat tahu isu-isu dan perkembangan terakhir mengenai topik yang dimaksud, sehingga angka dan data bisa disajikan dengan baik. Mega, karena sudah meninggalkan kursi kepresiden sejak 2004, hanya bisa mengungkap apa yang telah dikerjakannya di masa lalu.


2. Penampilan. Penampilan SBY cukup sederhana dan gagah, sementara Mega cukup memberikan gambaran seorang calon Ibu bangsa, dengan pakaian cukup baik berwarna cerah. Sementara mungkin JK perlu melakukan perbaikan mengingat pakaiannya—jas—hari ini kurang begitu pas di badan, dan ini agak aneh padahal JK biasanya menggunakan pakaian ”biasa” (bukan jas), sehingga terlihat JK agak kurang sederhana—meski jas yang dipakainya tanpa dasi.

3. Isi dan Cara Menjawab Pertanyaan. Cara menjawab ketiganya, secara umum bersifat normatif, dan lebih banyak saling mendukung, tak ada perbedaan tajam ketiganya. Mega lebih hal-hal bersifat praktis, demikian juga JK, sementara SBY lebih bersifat makro dan strategis. Diakui atau tidak, jawaban SBY lebih taktis dibanding Megadan JK, namun untuk kesederhanaan isi jawaban, apa yang disampaikan Mega lebih sederhana, mudah dicerna, meski tingkat analisis Mega dalam menjawab juga tidak dalam. JK sendiri dalam debat capres ini kurang memberikan jawaban taktis dan bebas seperti selama ini jika tampil sendiri. Posisinya tampil bersama dengan SBY, yang presiden, nampaknya mempengaruhi psikologis JK.

4. Konsistensi Program. SBY dan JK terus mengkomunikasikan pesan/motto kampanyenya dalam Debat Capres ini. SBY berulang kali mengemukakan kata ”lanjutkan” dan JK juga memberikan catatan penutup ”Lebih Cepat, Lebih Baik”. Mega dalam hal ini agak kurang menonjolkan slogan yang selama ini diusungnya, ”Membangun Ekonomi Kerakyatan”, atau mungkin karena topiknya bukan ekonomi, sehingga persoalan ekonomi kerakyatan belum terlalu dielaborasi oleh Mega.

Catatan Kritis Debat Capres
Beberapa catatan kritis yang dapat saya berikan:

1. Posisi ketiga capres dibanding posisi Anis Baswedan sebagai moderator, terasa yang menjadi ”bintang” adalah Anis. Sebab, selain memoderatori acara, Anis seperti dosen penguji tunggal yang menguji tiga mahasiswa sekaligus. Ke depan, perlu dipertimbangkan menggunakan sistem panelis, sehingga nilai ke-”bintang”-an capres/cawapres tetap bersinar, sebab perhatian publik akan ke capres bukan moderator tunggal karena sistem panelis.

2. Sesuai dengan namanya Debat Capres, acara ini tidak memunculkan perdebatan sesungguhnya, karena ketika ada satu isu, yang harusnya diharapkan adanya perbedaan pandangan, namun ternyata hampir senada—kalau tak mau dibilang sama, termasuk juga Megawati yang meng-klaim sebagai oposisi pemerintah, yang mana SBY dan JK dalam posisi hingga kini masih sebagai orang pemerintahan. Harusnya dilemparkan isu-isu terkini yang memang terdapat pro dan kontra antara mereka, dan dalam bentuk pertanyaan yang tajam bukan normatif. Misalnya: ”Menurut Bapak/Ibu Capres, siapakah yang paling berperan dalam perdamaian Aceh”, atau ”Apa peran Bapak/Ibu Capres dalam swasembada pangan”, sebab klaim-klaim sepihak itulah yang perlu didengar masyarakat, siapa sebenarnya yang bekerja dan punya ide-ide brilian.

3. Hendaknya acara Debat Capres tidak dicampurkan dengan budaya massa--politainment, yang kerap diselingi iklan, sehingga terasa iklan lebih mendominasi acara dibanding debat itu sendiri, dan juga rasa serta fokus debat, yang tensinya bisa kian meningkat kehangatannya, namun karena diselingi iklan jadi dingin kembali.

07 Juni 2009

Dampak Media pada Individu

Ada tiga bagian besar yang dikedepankan dalam pembahasan mengenai media individu. Yaitu, teori efek media, penelitian media media dan efek media yang berupa prilaku antisosial maupun prososial.

Teori Efek Media
Beberapa teori mengenai konsekuensi penggunaan media terhadap individu:
¨ Teori Peluru atau Teori Hypodermic. Media amat sangat berpengaruh dan dampaknya cepat seperti peluru atau jarum suntik hypodermic.


¨ Multistep Flow. Efek media tidak secara langsung terjadi, namun melalui pengaruh persoanl opinion leader. Pemimpin opini itu sendiri lebih banyak dipengaruhi elit media daripada saluran media massa sehari-hari.

¨ Efek Terbatas. Efek media terbatas karena khalayak dapat memilih pesan yang diinginkan.

¨ Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory). Teori ini menjelaskan bahwa pemirsa meniru apa yang mereka lihat di media sebagai proses observational learning.

¨ Teori Kultivasi. Teori ini berpendapat bahwa terpaan media massa menanamkan pandangan tentang dunia yang secara konsisten menghadirkan “kenyataan”.

¨ Priming. Teori ini menyatakan bahwa stimulasi gambaran media berhubungan dengan apa yang dipikirkan khalayak.

Penelitian Efek Media

Efek media berubah baik dalam kognisi, sikap, emosi atau prilaku sebagai hasil dari terpaan media massa. Ada bermacam metode penelitian untuk mempelajari hal tersebut, yang tiap jenis penelitian mempunyai kelebihan dan kekurangan. Beberapa penelitian efek media tersebut meliputi:

Ø Pendekatan Deduktif. Pendekatan ini berdasarkan hukum sebab akibat. Efek media diprediksikan berdasar teori yang ada dan prediksi tersebut diuji secara observasi sistematis. Terpaan media massa biasanya dilihat sebagai “sebab” atau variabel bebas. Terpaan terhadap isi media dilihat sebagai “akibat”, yang bisa berupa prilaku antisosial maupun prososial, yang disebut varibel dependent.

Ø Pendekatan Induktif. Lewat pendekatan ini, observasi dilakukan lebih dulu baru kemudian melahirkan teori. Pendekatan ini melihat bahwa media, budaya dan masyarakat saling mempengaruhi satu sama lain sehingga tidak ada aliran satu arah dari sebab ke akibat. Karena bersikap kritis terhadap media, sering juga pendekatan ini disebut dengan teori kritis.

Ø Metode Kualitatif vs. Kuantitatif. Metode kualitatif dipakai seperti dalam studi simbol dalam isi media. Sedang kuantitatif dipakai untuk menghitung temuan dan menganalisa dengan statistik hubungan antara variabel bebas dan variabel dependent.

Ø Analisis Isi. Analisis isi mengkuantifikasikan isi media. Analisis isi dapat menggambarkan secara detil isi media dan mengidentifikasikan kecenderungan isi pada waktu tertentu. Hanya saja, analisis isi tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan media efek karena khalayak sering memahami media secara berbeda dengan peneliti.

Ø Penelitian Eksperimental. Studi penelitian eksperimental terhadap efek media mengontrol kondisi yang diteliti secara cermat. Subyek eksperimen harus secara acak dibagi dalam kelompok untuk meminimalisasi dampak perbedaan individu di antara subyek, jika tidak hasilnya hanya akan menggambarkan karakter subyek dan bukan efek dari isi media.

Ø Penelitian Survei. Studi ini lebih umum daripada penelitian eksperimental akrena yang dijadikan sampel mewakili populasi yang lebih luas. Penelitian ini bisa menghasilkan temuan yang ambivalen dengan sebab dan akibat. Seperti, dimungkinkan misalnya seorang anak yang agresif senang bermain video games yang berisi kekerasan, atau kekerasan itulah yang justru menyebabkan bermain video games. Atau dimungkinkan, antara prilaku kekerasan dan penggunaan video games disebabkan oleh faktor ketiga, seperti longgarnya pengawasan orang tua.

Ø Penelitian Etnografi. Merupakan adaptasi dari teknik yang digunakan para antropolog untuk melihat budaya secara keseluruhan. Karenanya, etnografi merupakan cara alami untuk melihat dampak dari komunikasi media. Etnografi menempatkan media dalam konteks luas dari kehidupan dan budaya pengguna media. Meski terkadang menggunakan kueioner, etnografi sering dilihat sebagai alternatif penelitian survei. Survei memungkinkan untuk membandingkan banyak orang sesuai pertanyaan standar.

Efek Media
A. Prilaku Antisosial
Yang dimaksud dengan prilaku antisosial adalah bertentangan dengan norma-norma sosial yang ada. Termasuk di dalamnya pelanggaran hukum seperti pembunuhan, perkosaan ataupun narkotika. Para peneliti memberikan perhatian lebih pada tayangan kekerasan di televisi, namun begitu ada beberapa kategori efek media yang juga patut diberi perhatian, termasuk kecurigaan sosial, prilaku seksual dan penyalahgunaan obat-obatan.

a. Violence (Kekerasan). Efek kekerasan di televisi pada anak menjadi perhatian utama penelitian. Hal itu karena anak-anak mempunyai masalah dalam membedakan antara “dunia nyata” dan dunia lewat layar kaca. Anak-anak juga banyak menghabiskan waktu di depan televisi tanpa supervisi orang tua. Tak ketinggalan, anak-anak akan meniru kekerasan yang ditontonnya.

b. Prejudice (kecurigan). Media mempromosikan masalah seks, rasis dan hal intolerance lainnya. Media juga mendukung hadirnya stereotype, membuat generalisasi tentang sekelompok orang berdasar informasi yang terbatas. Stereotip media ini berpengaruh terhadap seluruh kelompok dalam masyarakat.

c. Prilaku Seksual. Hadirnya materi pornografi lewat majalah, video maupun internet menghadirkan kecenderungan baru efek seks dalam media: perkosaan dan pelecehan seksual.

d. Penyalahgunaan Narkoba. Tayangan mengenai rokok, minuman keras dan pemakaian narkoba ternyata meningkatkan konsumsi terhadap hal tersebut. Sehingga, ditengarai ada hubungan antara terpaan mengenai rokok, minuman keras dan pemakaian narkoba pada anak-anak dan remaja dengan konsumsi produk-produk tersebut.

e. Efek Media Komputer. Meluasnya pemakaian komputer dan internet menyebabkan beberapa dampak yang khusus pula. Seperti: kecanduan, depresi, prilaku antisosial dan computerphobia atau cyberphobia.

B. Prilaku Prososial
Berlawanan dengan antisosial, yang dimaksud dengan prilaku prososial adalah prilaku yang memiliki nilai-nilai positif yang ingin ditingkatakan pada anak-anak dan masyarakat, seperti kerja sama, berbagi, toleran, cinta kasih, penghormatan, penggunaan kontrasepsi, meningkatkan kemampuan membaca dan sebagainya.
Promosi prilaku prososial dilakukan melalui: kampanye informasi, pendidikan nonformal, mewaspadai efek iklan serta efek komunikasi politik.

DAFTAR PUSTAKA
Joseph Straubhaar dan LaRose, Robert. Media Now: Communication Media in the Information Age. Wadsworth, 2002.

19 Mei 2009

Intelektual, Masyarakat Informasi dan Menghilangnya Public Sphere*

Membaca tesis Philip Elliot berdasar apa yang dilihat dan dihadapinya adalah kelanjutan perubahan cara yang melibatkan orang-orang dalam masyarakat sebagai warga politik dari negara bangsa terhadap unit konsumsi dalam korporasi dunia. Konsekuensi logis hal ini adalah berlanjutnya erosi, seperti yang dikatakan Jurgen Habermas sebagai public sphere atau oleh C. Wright Mills dengan istilah komunitas publik.

Habermas melihat kedua tipe penyampaian politik berdasar pengetahuan, informasi dan asosiasi dalam demokrasi negara bangsa sebagai tipe borjuasi kapitalis. Masyarakat massa mengembangkan tingkat penerimaan kenyamanan, kesenangan dan kontrol dimana orang-orang berpartisipasi menjadi anggota pasar. Karena menyandarkan diri pada pasar, Nora dan Minc (1978) berpendapat, pasar bukanlah tempat untuk berpartisipasi melainkan konsumsi.

Daniel Bell (1976,1980) dan lainnya, yang memandang adanya ledakan informasi dan komunikasi akan menciptakan masyarakat dengan bentuk yang yang lebih rasional, berpendapat bahwa adalah terlalu simplifikatif jika teknologi baru serta-merta akan menaikan akses informasi secara umum dan membuka kemungkinan baru komunikasi dua arah. Ada dua alasan yang dikemukannya, yaitu persoalan akses dan pengertian tentang informasi dan komunikasi itu sendiri.

Masalah akses menurutnya tidaklah semata persoalan alat yang bersifat fisik. Hal ini juga melibatkan hak dan sumber untuk menggunakannya. Dianalogikan di sini bagaimana suatu perpustakaan sebagai toko ilmu pengetahuan dapat mengajak pengunjungnya untuk menjelajahi berbagai ilmu pengetahuan yang ada pada toko tersebut. Betapapun minimnya idealisme yang direalisasikan dalam praktek, sistem perpustakaan telah terinspirasi oleh tujuan masyarakat informasi .

Kelemahan antara analogi yang lama dan yang baru bagaimanapun akan tampak
setelah mempertimbangkan tujuan-tujuan pengontrol-pengontrol baru dari informasi. Herbert Schiller (1981) menerangkan adanya privatisasi dalam sistem informasi. Perusahaan komersial merupakan pembuat-pembuat informasi baru yang memiliki kepentingan utama dalam menjaga kerahasiaan informasi untuk melindungi rahasia-rahasia komersial mereka. Kepentingan kedua ialah menciptakan suatu komoditas untuk dijual di pasar.

Ada beberapa masalah lain dalam analogi perpustakaan. Meskipun perpustakaan memiliki katalog-katalog yang didesain untuk mempermudah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan serta pertanyaan lainnya yang lebih sulit untuk dihindari. Siapa yang akan menulis katalog? Siapa yang akan menetapkan pertanyaan-pertanyaan dan tingkat kemungkinan jawaban? Lebih jauh, siapa yang akan mengakumulasi kapasitas ilmu pengetahuan? Inilah karakter utopia teknologi yang akhirnya hanya akan mendomestivikasi fungsi kehidupan dan privatisasi kehidupan sosial.

Privatisasi dalam pengertian ini merupakan satu kunci dari semua proses yang diasosiasikan dengan analisa Frankfurt school mengenai media dan pengaruhnya pada hubungan sosial, bukan melalui pesan-pesan yang mereka bawa tetapi melalui tipe interaksi yang anjurkan. Argumen kuat Frankfurt School adalah kemungkinan adanya manipulasi, suatu argumen yang tidak sepenuhnya ditanya dalam ‘efek’ penelitian. Kelemahan dari argumen ini adalah bahwa privatisasi akan menghilangkan kemungkinan masyarakat untuk menjawab ulang karena hal itu menghilangkan kesempatan mereka untuk berasosiasi dimana kebutuhan umum diakui dan tuntutan diformulasikan.

Masalah kedua dari visi Bell, masyarakat yang kaya informasi adalah apa yang kita ambil saat ini sebagai suatu informasi dan sebagai suatu proses komunikasi informatif yang didasarkan pada model rasional tentang segala hal, tetapi memiliki nilai simbol yang tinggi, isi myth dan pasif serta nilai hiburan. Hal penting pada konsep informasi adalah kekenyalan dari masyarakat ideal secara rasional, pemerintahan yang demokratis dan kesuksesan kaum intektual dalam promosi kesetaraan informasi ditambah dengan pilihan rasional menyamakan kemajuan sosial.

Soal kesetaraan informasi ditolak oleh intelektual-intelektual konservatif. Hukum Hayek, misalnya, mengklaim bahwa usaha pembentukan ulang legislatif selalu mempunyai pengaruh yang berlawanan dari tujuan yang dimaksud. Argumen tersebut berlawanan dengan pendapat Gouldner (1979) dengan adanya “Klas Baru”. Menurutnya, klas baru ini merupakan mesin pemerintah sebagai penyedia dan pemroses informasi bagaimana seharusnya pemerintah bertindak. Ini yang menyebabkan para intelektual dalam dunia penelitian dan lembaga pendidikan berada dalam tekanan yang kian meningkat.

Konsep mengenai informasi Fabianesque adalah melihat informasi sebagai suatu sumber kebutuhan sosial yang dapat dilihat dalam perbicangan mengenai media massa. Pertumbuhan pers didasarkan pada dua proses, ketentuan dari fungsi informasi, terutama secara komersial dan secara finansial, kemudian kontroversi politis. Lebih jauh, kedua fungsi tersebut telah ditransformasikan.

Fungsi komersial telah meluas dan dengan transformasi berita ke dalam suatu komoditas, fungsi politik memudar. Namun begitu, perdebatan mengenai pers masih berlanjut pada istilah mengenai pers bebas yang mampu memberi informasi dan mencerminkan kepentingan opini untuk mempercepat pengambilan keputusan dalam demokrasi.

KOMENTAR
Hal utama yang disorot dalam bagian ini adalah peran para intelektual dan masyarakat informasi dalam menghilangnya public sphere. Sehingga yang perlu dikritisi dari paparan Elliott, benarkah intelektual dan masyarakat informasi berperan dalam erosi public sphere?

Jika dilihat apa yang menjadi argumen Elliott cukup rasional. Bahwa perubahan keterlibatan orang-orang dalam masyarakat sebagai warga politik dari negara membawa mereka ke dalam unik konsumsi korporasi dunia, bukan partisipasi. Kemudian juga adanya dua persoalan yang dihadapi mengenai peran teknologi baru, yaitu akses dan pengertian informasi dan komunikasi itu sendiri.

Soal akses, memang benar bahwa persoalannya bukan sekadar persoalan fisik saja namun juga hak dan sumber untuk menggunakannya. Seperti dengan hadirnya perkembangan teknologi informasi yang baru, internet. Persoalan akses memang bukan sekadar urusan koneksi fisik saja, namun juga bagaimana menggunakan teknologi tersebut dan hak untuk mengkoneksinya.

Mengenai pengertian informasi dan komunikasi, apa yang disampaikan Elliott cukup membuka wawasan baru tentang istilah yang jika ditarik ke dalam negeri, telah terjadi kesalahpengertian mengenai pengertian informasi dan komunikasi. Seperti dengan digembar-gemborkannya mengenai masyarakat informasi, yang sesungguhnya menurut Bell, informasi terkait dengan masyarakat ideal secara rasional, pemerintahan yang demokratis dan kesuksesan kaum intelektual dalam promosi kesetaraan informasi ditambah dengan pilihan rasional menyamakan kemajuan sosial.

Antitesis dari tesis Elliott dapat dilihat dari tulisan Mark Poster (1999) lewat “Cyberdemocracy: Internet and The Public Sphere”. Poster dalam uraiannya, yang berkebalikan dengan yang dikatakan Elliott soal teknologi dan erosi public sphere, justru melihat bahwa teknologi baru ini membuka wacana tentang konsep public sphere modern. Terutama mengenai pertemuan tatap muka (face-to-face) dan istilah-istilah baru seperti virtual communities ataupun electronic cafe. Ada nada optimis bahwa public sphere di internet memungkinkan orang berdiskusi secara bebas serta hadirnya media-media independen yang tidak mengikuti arus komersialisasi pasar.

Bahkan teknologi internet sendiri sejalan dengan kritikan John B. Thomson (1983) terhadap pandangan Habermas mengenai public sphere yang dinilainya sebagai public sphere borjuis dan laki-laki, model public sphere borjuis merupakan idealisasi sejarah yang tidak sesuai gerakan sosial non borjuis dan mengenai penurunan public sphere dari Structural Tranformation.
Sedang mengenai peran intelektual dalam erosi publick sphere, karena masalah kesetaraan informasi masih menjadi perdebatan kalangan intelektual sendiri, maka begitu sulit untuk membebankan tanggung jawab kesetaraan informasi itu di kalangan intelektual sendiri. Tapi jika alangkah baiknya jika memang intelektual dapat menjalankan fungsi tersebut.


*Elliot, Philip(1971). Intellectuals, The ‘Information Society’ and The Disappearance of The Public Sphere dari Media, Culture and Society, Schlesinger, P. dan Sparks, C. (ed.) Academic Press, London, Vol.4, No.3, pp.244-6.

04 Mei 2009

Komunikasi dan Budaya (Bagian-2)

Ada dua pendekatan dasar dalam studi mengenai budaya: emic dan etic. Pendekatan emic memfokuskan pada pengkajian budaya dari dalam, pada pemahaman budaya ketika anggota-anggota dari budaya memahami kebudyaan mereka. Sebaliknya, pendekatan etic memfokuskan pada memahami budaya dari luar dengan membandingkan budaya-budaya yang menggunakan karakteristik yang telah ditetapkan sebelumnya.
Perbedaan antara pendekatan emic dan etic dapat ditelusuri lewat pembahasan Pike (1966) tentang fonetik (ujaran-ujaran vokal yang universal) dan fonemik (ujaran-ujaran vokal yang secara budaya bersifat unik). Brislin (1983) berpendapat bahwa dalam pemakaiannya dewasa ini, perbedaan itu pada daarnya digunakan sebagai sebuah metafora untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan antara pendekatan yang bersifat spesfik terhadap budaya (emic, budaya tunggal) dan pendekatan umum terhadap budaya (etic, universal) dalam penelitian. Berry (1980, pp.11-12) menyajikan sebuah rangkuman singkat tentang perbedaan-perbedaan itu (lihat tabel 1.1).

Sebagian besar penelitian sosiologis dan psikologis cenderung bersifat etic, sedangkan sebagian besar penelitian antropologis cenderung bersifat emic. Penelitian komunikasi cenderung menggunakan pendekatan psikologis dan antropologis, dan itu berarti dapat berupa pendkatan emic atau etic.

Ketika pengujian konsep-konsep yang menggunakan metode etic itu diasumsikan berlaku secara lintas budaya, maka pengujian-pengujian itu dimaksudkan sebagai pendekatan etic yang dipaksakan (Berry, 1969) atau pendekatan etic semu (Triandis, Malpass dan Davidson, 1973). Sebaliknya, pendekatan etic yang sebenarnya muncul dari data empiris; pendekatan-pendekatan itu merupakan ciri-ciri umum dari konsep yang sedang dipelajari dalam budaya yang dikaji.

Walaupun pendekatan emic dan etic dipandang sebagai pendekatan yang berlawanan, kedua pendekatan ini dapat digabungkan. Triandis (1972), merekomendasikan data emic dan etic. Satu cara untuk menyempurnakan hal ini memperoleh kelengkapan dari konsep dibawah studi dan termasuk aspek bahwa komunikasi antar budaya, sebagaimana aspek yang khas terhadap budaya yang dipelajari.

Dalam tinjauan pendekatan emic dan etic, dilakukan tinjauan singkat bagaimana pendekatan ini digunakan dalam studi komunikasi dalam hubungan pribadi lintar budaya. Dimulai dengan pendekatan emic. Pendekatan ini didasarkan pada antropologi, sosiolingusitik atau model etnografi dari percakapan. Berikutnya diuji pendekatan etic. Model-model ini didasarkan pada upaya menemukan cara sistematik dimana budaya yang berbeda dan dalam mengisolasi aspek universal dari komunikasi antar budaya.

Penelitian Antropologi dalam Komunikasi :
Pendekatan Emic

Penelitian antropologi biasanya meliputi pendekatan emic dalam memahami budaya. Tujuan penelitian antropologi adalah menggambarkan beberapa aspek budaya, dari perspektif anggota budaya yang diuji. Kebanyakan penelitian antropologi menguji satu budaya, tetapi terdapat penelitian yang menggunakan perspektif komparatif.

Tidak semua penelitian antropologi memfokuskan diri pada komunikasi. Di sini, penelitian antropologi meluas pada komunikasi antarbudaya. Tidak mungkin untuk membuat tinjauan bahkan ‘ujung dari gunung es’ dari penelitan antropologi pada komunikasi di sini, sedikit contoh dalam dua ilustrasi, meskipun begitu tidak bisa dibuktikan.

Basso (1970) mengamati bahwa keheningan dalam budaya Apache adalah tepat dalam konteks dari hubungan sosial yang tidak pasti dan tidak bisa diprediksi. Keheningan lebih dipilih daripada berbicara ketika status dari orang yang diajak berkomunikasi dengan suku Apache bersikap mendua. Rosaldo (1973, 1980) meneliti tentang seni pidato Ilongot yang juga berguna untuk memahami perbedaan-perbedaan budaya berkomunikasi dalam hubungan pribadi.

Hall (1959, 1966, 1976, 1983) penelitian antropologi paling banyak frekuensinya disebut dalam kerja studi komunikasi antarbudaya. Hall (1976) bekerja pada konteks komunikasi bahasa rendah—tinggi adalah sangat penting. Dia mendefinisikan komunikasi berkonteks rendah seperti melibatkan pesan-pesan dimana “informasi yang besar (yang menunjukkan makna untuk pesan) tetap dalam kode-kode yang eksplisit” dan komunikasi berkonteks tinggi seperti pesan-pesan dimana “kebanyakan informasi” disamping dalam konteks fisik atau didalam diri seseorang, sementara sangat sedikit dalam kode-kode eksplisit, mengirimkan bagian dari pesan. Skema ini digunakan dalam deskripsi emic tentang komunikasi dalam beragam budaya, sebagaimana dalam perbandingan etic, tentang komunikasi.

Penelitian Sosiolinguistik:
Suatu pendekatan emic

Penelitian sosiolinguistik antarbudaya dirancang untuk menguji kegunaan dari bahasa di dalam budaya yang khusus atau antar budaya. Octis (1986) mengemukakan bahwa kebanyakan perbedaan antarbudaya dalam bahasa adalah “perbedaan dalam konteks dan atau frekuensi kejadian” (hlm. 10). Disimpulkan bahwa perbedaan-perbedaan dalam penggunaan bahasa adalah suatu fungsi dari ‘meliputi isi semantik-pragmatis, sejumlah teman bicara yang termasuk, hubungan sosial dari para pembicara, teman-teman bicara, keadaan, ukuran rutinitas peniruan dari sebuah frekuensi kejadian dalam pengalaman anak-anak muda (hlm. 10)”.

Studi Albert (1972) tentang budaya pidato dalam ilustrasi Burundi pada penelitian sosiolinguistik mengenai penggunaan bahasa. Mendasarkan diri pada wilayah kerjanya, dia mencatat bahwa anggota budaya Burundi menggunakan derajat gaya pidato formal yang berbeda sesuai dengan kasta, usia, jenis kelamin, martabat, hubungan persahabatan, tempat tinggal yang berdekatan dan hubungan ekonomi politik seseorang. Albert menekankan bahwa ‘peranan sosial dengan adat kesopanan, cocok dengan bentuk dan gaya berpidato, dan termasuk tanda-tanda ekstralinguistik dan topik-topik diskusi (hlm. 86).

Etnografi Berpidato:
Sebuah Pendekatan Emic

Penelitian etnografi berpidato melibatkan kombinasi penelitian antropologi dan sosiolinguistik. Penelitian etnografi berpidato berdasar pada hasil kerja Hymes (1962), Gumperz (1971, 1982), Phillipsen (1989) dan siswa-siswa mereka. Penelitian ini memfokuskan pada perbedaan pola komunikasi dan aturan-aturan komunikasi yang digunakan dalam pidato komunitas khusus (misalnya sekelompok orang yang membagi pengetahuan mengenai aturan-aturan komunikasi dan intepretasi pidato). Kepentingan khusus dalm studi etnografi berpidato ini adalah menggambarkan cara berpidato yang dibentuk secara kultural (Hymes, 1974).

Katriel (1986) menggambarkan pidato “dugri” dalam budaya “Sabra” Israel “dugri” (bicara lurus) digunakan untuk mempertunjukkan ketulusan, ketegasan, kealamiahan, dan ketegangan pada perhatian wajah yang membolehkan ekspresi (ungkapan) bebas dari pendapat, pikiran, atau keinginan pembicara yang dapat merupakan ancaman terhadap si pembicara (hlm. III). Pembicara Hebrew menggunakan pidato “Dugri” untuk menggambarkan bahwa mereka telah bersikap jujur terhadap diri mereka sendiri. Pembicara Arab, secara kebalikan, menggunakan pidato ‘dugri” untuk menunjukkan perhatian pada kejujuran dengan menyatakan informasi yang sesungguhnya merupakan hiasan dan selubung (persembunyian).

Morris (1981) melakukan studi lapangan untuk memeriksa wacana dalam Puerto Rico. Ia menggambarkan bahwa wacana tersebut membutuhkan pembicara untuk menciptakan dirinya dan orang lain dalam “risiko” sehingga mereka dapat mengurangi pertentangan yang muncul dengan berbagai cara yang memungkinkan morris menekankan bahwa gambaran sistematik tentang makna yang kabur, menggunakan bahasa secara tidak tepat dan tidak langsung (hlm. 135).

Dimensi Keanekaragaman Budaya:
Pendekatan Etic

Aspek etic dari budaya sering diuji dari segi dimensi keanekaragaman budaya. Maksudnya, dimensi yang berdasarkan budaya-budaya itu menjadi berbeda atau sama yang dapat digunakan untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan atau kesamaan-kesamaan dalam tingkahlaku komunikasi lintas budaya. Dimensi utama dari keanekaragaman budaya yang diisolasikan oleh para teoritisi lintas budaya adalah individualisme-kolektivisme (seperti hubungan budaya Cina, 1987; Hofstede, 1980; Ito, 1989; Kluckhohn & Strodtbeck, 1961; Triandis, 1995). Dalam budaya individualistik kebutuhan-kebutuhan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan individu lebih diutamakan daripada kebutuhan-kebutuhan, nilai-nilai, dan tujuan-tujuan kelompok. Dalam budaya kolektivistik kebutuhan-kebutuhan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan dalam kelompok lebih diutamakan dari pada kebutuhan-kebutuhan, nilai-nilai, dan tujuan-tujuan individu (Triandis, 1995).

Para teoretisi lain memisahkan dimensi-dimensi yang berbeda dari keaneragaman budaya. Hofstede (1980), misalnya, memisahkan individualisme-kolektivisme dengan tiga dimensi tambahan, yaitu: penghindaran ketidakpastian, jarak kekuasaan, maskulinitas-feminitas. Penghindaran ketidakpastian meliputi tingkat sejauh mana anggota-anggota dari sebuah kebudayaan berusaha menghindari ketidakpastian.

Dalam budaya dengan tingkat penghindaran ketidakpastian yang tinggi, ketidakpastian dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya dan anggota-anggota berusaha menghindari ketidakpastian itu. Dalam budaya dengan tingkat penghindaran ketidakpastian yang rendah, ketidakpastian dipandang sebagai bagian yang penting dari kehidupan dimana dengan ketidakpastian itu anggota-anggota dari kebudayaan tersebut sepakat.

Jarak kekuasaan menunjuk pada tingkat dimana ketidaksetaraan kekuasaan dianggap sebagai hal yang wajar dan melekat dalam individu-individu dalam budaya tersebut. Dalam budaya jarak kekuatan yang tinggi ketiadaan nilai kekuatan dipandang sebagai alami dan mencakup dalam individu-individu yang terlibat. Dalam budaya jarak kekuatan yang rendah masyarakat diasumsikan seimbang atau sejajar dan ketiadaan di antara individu-individu yang dianggap sebagai fungsi dari peran yang masuk dalam situasi khusus.

Maskulinitas dan feminitas dianggap sebagai peran jenis kelamin di dalam sebuah budaya. Dalam budaya maskulin ada peran seks yang rentan untuk pria dan wanita. Di dalam budaya feminim peran seks adalah tidak kaku dan ada ketidakjelasan ekspektasi pria dan wanita.

Penggunaan dimensi dari variability budaya sebagai konsep etic membolehkan kesamaan perbedaan dan perbedaan dalam perilaku yang diprediksikan dalam lintas budaya. Untuk menggambarkannya, Triandis (1995) berargumen bahwa fokus yang relatif terhadap budaya kolektivistik dan individualistik mengarah pada perbedaan orientasi menuju anggota kelompok dan di luar kelompok. Triandis menyatakan bahwa ada suatu perbedaan yang signifikan pada cara berkelakuan tiap individu terhadap anggota-anggota dalam kelompoknya dan anggota-anggota kelompok luar pada budaya kolektivistik. Akan tetapi perbedaan tersebut tidaklah signifikan dalam budaya individualistic. Prediksi jumlah dapat didasari pada masing-masing dimensi variabilitas budaya (lihat Gudykunts & Matsumoto).

Meskipun, dimensi-dimensi variabilitas budaya membuat prediksi-prediksi persamaan dan perbedaan budaya, masing-masing dimensi dimanifestasi dalam suatu cara unik ke dalam masing-masing budaya. Gudykunts dan Nishida (1994), sebagai contoh menjelaskan bahwa untuk memahami kolektivisme di Jepang. Sebagai ilustrasi, Hamaguchi (1980) berisi tentang budaya Jepang “Kontekstualistik”. Diskusi Hamaguchi tentang konteks yang sama dengan deskripsi tentang kolektivisme, tetapi ini juga berisi emic budaya Jepang yang tidak termasuk ke dalam diskusi umum dari kolektivisme. Hal ini diharapkan, sebab cara kolektivisme adalah manifestasi sebuah budaya unik pada budaya tersebut.

Dimensi-Dimensi Universal Hubungan Personal:
Suatu Pendekatan Etic
Triandis (1977) membagi empat dimensi hubungan sosial pendekatan universal. Dimensi pertama adalah asosiasi-tidak asosiasi. Perilaku asosiasi mencakup menolong, suportif, atau kooperatif, sementara sikap tidak asosiasi mencakup perlawanan atau menghindar dari orang lain. Dimensi universal kedua adalah superordinasi-superordinasi. Prilaku superordinat mengkritisi atau memberikan pesanan-pesanan, sementara prilaku subordinat meliputi: menanyakan persetujuan, atau mematuhi (kepatuhan). Dimensi ketiga adalah intimasi-formal. Prilaku intimasi mencakup membuka diri (keterbukaan), Ekspresi emosi, atau sentuhan. Dimensi terakhir dari perilaku sosial universal adalah jelas-samar. Jelas adalah tampak oleh orang lain., sementara perilaku samar adalah tidak tampak oleh orang lain.

Asosiasi-tidak asosiasi, superordinasi-subordinasi, intimidasi, dan perilaku jelas-tersamar adalah universal, akan tetapi derajat kepada siapa dimanifestasikan beragam lintas budaya. Triandis berpendapat bahwa dimensi disosiasi (pemisahan diri) dihubungkan dengan orientasi nilai sifat dasar manusia yang dikemukakan Klukhon & Strodtbeck (1961). Perilaku asosiasi (mudah bergaul) menonjol dalam budaya dimana orang berpendapat bahwa hal tiu merupakan sifat dasar manusia yang baik, dan perilaklu disosiasi (memisahkan diri) dalam budaya disebut disebut orang sebagai sifat dasar manusia yang jelek.

Dimensi atasan-bawahan mirip dengan dimensi jarak kekuatan variabilitas budaya yang dikemukakan Hofstede (1980). Triandis (1984) berpendapat bahwa keberadaan atasana-bawahan dilihat sebagai sifat alami dan sebuah fungsi karakteristik manusia dalam budaya yang punya jarak kekuatan yang tinggi. Perilaku atasan bawahan tidak dilihat sebagai sifat budaya rendah. Dalam budaya rendah, adanya atsan-bawahan dipandang sebagai fungsi peranan manusia dan bukan sebagai karakteristik yang terlahir begitu saja.

Keintiman-formalitas dapat dihubungkan dengan isu umum tentang kontak. Triandis (1984) menyatakan bahwa dalam budaya kontak “orang sering menyentuh, mereka berdiri lebih dekat dengan satu sama lain, mereka mendekatkan badan mereka sehingga mereka berhadapan dengan satu sama lain, mereka melihat satu sama lain di mata, dan mereka menggunakan gerakan yang lebih kuat dalam untuk ekspresi emosionalnya” (hlm. 324). Budaya non-kontak melibatkan pola yang berbeda: sedikit sentuhan, berdiri dengan terpisah, sedikit kontak mata, dan level rendah dari ekspresi emosional. Orang-orang dalam budaya kontak cenderung untuk mengekspresikan perasaannya secara terbuka, sementara anggota budaya non-kontak cenderung untuk menekannya.
Triandis (1984) menyarankan bahwa dimensi jelas-tersembunyi berubah-ubah sebagai fungsi dari variasi budaya longgar-ketat. Boldt (1978) mendefinisikan pengetatan struktural dalam istilah perbedaan peran (jumlah peran dan hubungan peran) dan keterhubungan peran (sifat ikatan di antara peran-peran). Semakin banyak peran yang ada dan semakin ketat mereka terikat, struktur sosial itu pun semakin ketat secara struktural. Triandis berpendapat bahwa terdapat lebih banyak perilaku yang dapat diamati dalam budaya longgar daripada dalam budaya ketat.
Adamopoulos dan Bontempo (1986) memusatkan perhatian terhadap universalitas tiga dimensi dari hubungan antarpribadi dengan menggunakan bahan kesusastraan dari berbagai periode sejarah yang berbeda-beda. Mereka mencatat bahwa afiliasi dan dominasi tampak bersifat universal, tanpa banyak perubahan dalam waktu 3000 tahun. Keintiman, sebaliknya, juga universal, namun perilaku-perilaku yang dianggap intim telah berubah seiring waktu.
Foa dan Foa (1974) mengambil pendekatan yang berbeda dalam mengisolasi dimensi universal perilaku. Mereka menyatakan bahwa sumber daya yang ditukar individu-individu selama interaksi dapat diklasifikasikan menjadi enam kelompok yang tertata dalam sebuah lingkaran: cinta (pukul 12 menggunakan permukaan jam untuk mewakili lingkaran), jasa-jasa (pukul 2), barang-barang (pukul 4), uang (pukul 6), informasi (pukul 8), dan status (pukul 10). Sumber-sumber ini berbeda-beda sepanjang dua dimensi: Pertama, partikularisme. Kepentingan dari identitas individu (penerima atau pemberi) dalam pertukaran (bergerak turun dan naik di permukaan jam, partikularisme paling kecil pada pukul 6 dan paling besar pada pukul 12. Kedua, kenyataan. Tingkatan dimana sumber mempunyai nilai muka, lawan dari nilai simbolik (bergerak dengan horisontal melintas permukaan jam, kenyataan yang paling kecil pada pukul 9 dan yang paling besar pada pukul 3).
Sumber-sumber yang paling terdekat dari kerangka kerja Foa dan Foa, satu sama lain, semakin banyak kesamaan yang mereka terima, dan semakin besar kepuasan yang muncul ketika sumber-sumber dipertukarkan. Penelitian Foa dan Foa mengindikasikan bahwa struktur sumber dapat diterapkan lintas budaya. Fiske membatasi empat bentuk dasar dari hubungan manusiawi: penggunaan bersama, kesesuaian yang sepadan, tingkatan kewenangan, dan penghargaan pasar.

Penggunaan bersama adalah sebuah hubungan yang sepadan dimana orang-orang dipadukan (untuk tujuan yang ada) sehingga batasan dari diri individu menjadi kabur (tidak jelas). Kesesuaian yang sepadan adalah sebuah hubungan yang sepadan antara orang-orang yang berbeda satu sama lain dan mereka sebaya. Tingkat kewenangan adalah sebuah hubungan yang tidak setara antara dua orang yang tidak sepadan. Penghargaan pasar adalah sebuah hubungan yang ditengahi oleh nilai-nilai dari beberapa sistem pasar. Sistem pasar, contohnya, mungkin didasarkan pada tindakan orang-orang, jasa-jasa, atau barnag-barang. Fiske mengatakan bahwa empat model ini menyediakan “tata bahasa” untuk hubungan sosial. Penelitian Fiske mendukung pernyataan ini. Empat bentuk dasar dari perilaku sosial adalah dasar untuk semua jenis-jenis lainnya dari hubungan-hubungan dan lintas budaya yang universal (menyeluruh).

Fiske mengatakan bahwa semua bentuk perilaku dapat digunakan dalam beberapa situasi dalam beberapa budaya. Anggota-anggota dari budaya, bagaimanapun belajar memilih bentuk-bentuk perilaku yang khas dalam situasi tertentu. Triandis berpendapat bahwa orang-orang dalam budaya yang kolektivistik belajar untuk menggunakan penggunaan bersama dan tingkatan kewenangan daripada kesesuaian yang sepadan dan penghargaan pasar. Anggota-anggota dari budaya individualistik, sebaliknya, lebih belajar untuk menggunakan kesesuaian yang sepadan dan penghargaan pasar daripada dua yang lain. Tingkatan kewenangan juga dapat dilihat berbeda sebagai sebuah fungsi dari jarak kekuasaan. Smith dan Bond mengatakan bahwa harga pasar dikaitkan dengan orientasi maskulin dari Hotstede dengan kesesuaian sepadan dikaitkan dengan orientasi feminin.