Tampilkan postingan dengan label broadband economy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label broadband economy. Tampilkan semua postingan

14 April 2012

Diwawancara Telecoms.com Soal Broadband di Indonesia

Telecoms.com mewawancarai saya soal broadband di Indonesia. Berikut hasilnya sebagaimana dapat juga diakses di


http://www.telecoms.com/42347/indonesian-regulator-“by-2015-half-of-the-population-will-be-connected-to-the-internet”/

Heru Sutadi is Commissioner at the Indonesian Telecom Regulatory Authority. Telecoms.com talks to him about the challenges facing service providers and operators in rolling out broadband in the country.


What is the core technology your network is currently based on and what are the development plans for the future? We use two kinds of technology, fiber optic cable and wireless to provide broadband in Indonesia. Mostly we use 3G/HSPA-based wireless broadband technology and Broadband Wireless Access (BWA) spectrum at 2.3 GHZ due to it being easier to implement in open and widespread areas such as Indonesia. In some cities we have already provided FTTH with fibre optic. We also use fibre optic for  our backbone. In the future we plan to build a fiber optic backbone in the Eastern part of Indonesia. For wireless access we have allocated a second carrier and are preparing for a third that will be a 3G-based operator. The 2.3GHz spectrum in the county is technology neutral so it’s just a matter of time matter for Indonesia to adopt LTE at this frequency.
What major developments have there been for the broadband industry in your region over the past year?
Last year we allocated a second carrier as a 3G operator, so there are now five operators with 2 x 10MHz in order to provide broadband. We have provided broadband in 5000 districts as part of our broadband services obligation. We hope that by 2015 all 72,000 villages will have broadband connection and half of the Indonesian population (119milion) will be connected to the internet as per our World Summit on the Information Society (WSIS) commitments.
Speed is often touted as a priority, but some view the major challenge to be coverage and network capacity. What is your view?
Our priorities are coverage and network speed. The first is coverage. We want broadband to cover all of Indonesia with a minimum standard rate of 256kbps. After that, step-by-step we will increase that rate. Based on user demand, in big cities like Jakarta, we are already looking at how to increase speed levels.
Is FTTH really necessary for businesses and consumers and what are the stumbling blocks to rolling it out?
In some cities: Jakarta, Bandung, Surabaya, some homes are already connected to fibre optic. But not all areas can be serviced with FTTH due to Indonesia’s very large, very unique geography. We are separated by the sea and because of that it’s often not easy to lay cables to homes, so in these situations wireless network are easier implement
To what extent can fixed wireless connections help in the roll out of broadband connectivity?
Wireless connections are helpful for the Indonesian situation. Maybe we can say that wireless broadband is our priority rather cable broadband. That said, in some areas or city we provide broadband by fibre optic cable due to it being more stable and able to deliver more speed than wireless.
Will the dominance of mobile connectivity limit the growth opportunities for fixed line connections?
Between mobile connectivity and fixed line they will complement each other. Personal connectivity with a smartphone is the wireless market, but for home that’s a fixed line market and each has its advantages and disadvantages.
What is your stance on bandwidth caps, line throttling and traffic management?
Actually, we do not regulate these things, but some consumers have already sent complaints to us, so we have a plan to regulate QoS for data connections. From our Consumer Protection law, providers must give clear and complete information in their ads, so consumers know the terms and condition when they are using data connections.
What are the trends in terms of data traffic and how is it affecting your network expansion plans?
Data traffic is increasing due to increasing use of smarphones such as Blackberry, which holds the top position in Asia Pacific, the iPhone, or tablets. Facebook and Twitter use contribute significantly and that affecting expansion of broadband network in Indonesia.
What are the biggest challenges you expect to be face over the next 12 months?
Our big challenges will be especially related to spectrum frequency as some 3G operators feel that 2x10MHz is not enough. Other issues are how to provide backbone connections to connect Western and Eastern Indonesia, how to build internet exchanges in five big islands and how to connect the National Internet Exchange to TIER-1, so not all traffic needs to go through Jakarta.
Why is your attendance at this event so important for you and your company and what aspect are you looking forward to most?
From this event I hope I can get new information regarding latest the broadband technology. I hope to share experiences with other delegates on how other countries implement and deliver broadband to its citizens with all problem and challenges and how to best solve them.

07 Juni 2011

Tulisan Saya Soal Ekonomi Broadband

Kolom Telematika 
Tantangan MDGs dan Ekonomi Broadband 
Penulis: Heru Sutadi - detikinet



Kolom - Telah disepakati secara internasional bahwa 2015 merupakan target pencapaian Millenium Development Goals (MGs). Banyak cara dilakukan negara-negara lain dalam mengakselerasi pencapai MDGs mengingat tenggat waktu yang tidak terlalu lama lagi. 

Salah satu cara efektif dan solusi yang berkelanjutan menghadapi tantangan global abad ke-21 terkait kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, persamaan gender, perubahan iklim dan perubahan populasi dunia ke generasi muda, adalah mengedepankan apa yang disebut dengan ekonomi pita lebar (broadband). 

Banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengembangan broadband di suatu negara dengan gross domestic product (GDP) nasional. Seperti dilakukan dalam penelitian terbaru oleh Arthur D. Little (2010), yang menyimpulkan bahwa penambahan 10% pertumbuhan broadband akan berdampak pada pertumbuhan GDP sebesar 1%. 

Begitu juga dengan penambahan 1000 pengguna broadband baru, akan menumbuhkan 80 pekerjaan baru. Angka ini memang di bawah estimasi internasional bahwa peningkatan sepuluh persen penetrasi broadband akan meningkatkan 1,3% GDP nasional, namun tetap ada temuan bahwa ada korelasi broadband dan GDP. 

Pembicaraan ekonomi broadband begitu penting mengingat broadband adalah katalis dari masyarakat ke depan yang terhubung (connected society). Layanan-layanan kesehatan, pendidikan, bisnis, perdagangan maupun pemerintahan ke depan akan sangat bergantung pada ketersediaan broadband sebagai platform-nya. 

Dalam layanan pemerintahan, broadband akan jadi alat yang sangat penting dalam transformasi di sektor publik. Apalagi dengan perubahan dari sekadar layanan pemerintahan secara elektronik (e-government) ke arah layanan pemerintahan yang terintegrasi (integrated government). Dalam hal kesehatan, broadband akan menjadi jembatan penting untung mengatasi kekurangan tenaga kesehatan untuk melayani mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan. 

Perkembangan e-health, jangan dilihat sebagai teknologi medis modern yang sangat mahal, namun sesungguhnya bisa sangat sederhana: ada komputer, scanner dan kamera digital. Untuk pengiriman data dari klinik di desa ke rumah sakit yang lebih besar, atau dokter dapat mendiagnosa pasien dari jarak yang sangat jauh, tentunya membutukan dukungan infrastruktur broadband.

Untuk pendidikan, bukan hal yang aneh jika broadband dibutuhkan. Selain dapat dipakai untuk pendidikan secara online, dimana e-learning dan m-learning di banyak negara tumbuh signifikan, broadband telah menjadi kebutuhan asasi para siswa serta mahasiswa untuk mendapatkan informasi, interaktivitas, berbagi bahan bacaan serta mengunduh buku-buku pelajaran, yang di Indonesia sudah pula disediakan dalam bentuk e-books.

Di Indonesia, beberapa upaya untuk mengembangkan broadband sudah dilakukan. Seperti dalam hal alokasi spektrum untuk generasi ke-3 atau 3G, dibukanya tender broadband wireless access (BWA), diberinya kesempatan trial LTE, mengeluarkan beberapa perijinan untuk pembangunan jaringan serat optik di beberapa wilayah—termasuk ke internasional, serta tarif layanan pita lebar yang makin terjangkau karena kompetisi yang dibangun secara sehat.

Namun begitu, tantangan yang dihadapi dan jadi pekerjaan rumah juga tidak sedikit. Sebab, hingga saat ini, kita belum mempunyai Rencana Broadband Nasional. Sehingga, jika banyak negara sudah mencanangkan visi "Broadband for All", di sini nampaknya baru sekadar wacana. Begitu juga dengan tidak adanya broadband leadership. 

Pekerjaan membangun dan memanfaatkan broadband untuk jadi alat pertumbuhan ekonomi, bukanlah pekerjaan satu sektor saja. Mau tidak mau, seorang Presiden harus menjadi komandan ekonomi baru yang menjadi tren dunia ini. Ini agar semua sektor dapat berkomunikasi dan diintegrasikan. 

Sehingga, kesulitan seperti menggunakan dana USO untuk pembangunan infrastruktur broadband atau pembentukan ICT Fund tidak terjadi karena dana ini bukanlah pendapatan negara, melainkan titipan konsumen telekomunikasi kepada negara agar dapat dipakai membangun wilayah-wilayah yang terbelakang secara infrastruktur. 

Tantangan infrastuktur bukanlah hal enteng, sebab kita masih butuh banyak infrastruktur broadband dari jaringan backbone, bakchaul sampai ke akses. 

Dan last but not least, adalah soal e-literacy. Walaupun ditargetkan separuh pendudu Indonesia terkoneksi ke internet dan seluruh desa sudah broadband di 2015, tanpa SDM yang secara cerdas dapat memanfaatkan broadband untuk kemajuan pendidikan, kesehatan, layanan pemerintahan, bisnis, perdagangan dan lain-lain, ya nampaknya kita hanya bisa bangga sebagai pengguna Facebook ke-2 di dunia saja, bukan pembuat aplikasi-aplikasi baru yang mendunia. 



*Penulis adalah pengamat teknologi informasi. Dapat dihubungi lewat redaksi @detikinet.comatau langsung ke herusutadi@hotmail.com, twitter: @herusutadi